Menurut Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) NTB Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana, naik-turunnya IHSG adalah cermin paling sederhana dari denyut nadi ekonomi dan psikologi massal di Indonesia.
"IHSG itu cermin yang merefleksikan pergerakan seluruh saham yang diperdagangkan di BEI," jelas Sandiana.
Jika pasar saham diibaratkan sebagai pasar tradisional, IHSG adalah harga rata-rata dari seluruh dagangan di pasar itu.
Prinsipnya sederhana, ketika pembeli lebih banyak dari penjual, harga naik.
Sebaliknya, ketika sentimen negatif muncul dan para investor memilih menjual, IHSG pun terkoreksi.
Pergerakan IHSG tidak hanya dipengaruhi oleh angka-angka ekonomi murni.
Melainkan juga oleh emosi manusia, yaitu rasa takut dan harapan yang menggerakkan investor.
Ketika muncul berita baik, seperti pertumbuhan ekonomi yang kuat, suku bunga yang stabil, atau kenaikan laba perusahaan besar, rasa percaya diri pelaku pasar akan meningkat.
Mereka berlomba membeli saham, dan IHSG pun menanjak, begitu juga sebaliknya.
"Fluktuasi, atau yang kita sebut volatilitas, adalah hal yang sangat wajar," jelasnya.
Kunci untuk menavigasi pasar yang naik-turun bukanlah dengan mencoba menebak pergerakan harian.
Melainkan dengan mengubah cara pandang terhadap investasi itu sendiri dan menerapkan strategi yang disiplin.
Ketika IHSG turun, investor berpengalaman melihatnya sebagai kesempatan untuk membeli saham bagus dengan harga diskon, bukan sebagai bencana.
Sebaliknya, saat harga naik, mereka menikmati hasil dari strategi jangka panjang.
“Cara paling sederhana adalah dengan membeli lebih banyak saham secara rutin, tidak peduli pasar sedang naik atau turun," kata Sandiana.
Prinsip ini, yang dikenal sebagai cost averaging. Ini terbukti efektif karena investor akan mendapatkan harga rata-rata yang lebih baik dalam jangka panjang.
Ia juga menekankan pentingnya diversifikasi.
"Dengan menyebar investasi ke berbagai jenis saham atau instrumen lain seperti reksa dana, obligasi, dan emas, risiko dapat ditekan secara signifikan," jelasnya.
Sandiana mengajak masyarakat NTB untuk tidak takut pada fluktuasi IHSG. Melainkan belajar memahami maknanya.
"Yang penting bukan menebak kapan gelombang datang, melainkan belajar menavigasi di atasnya," pungkasnya.
Editor : Siti Aeny Maryam