Asosiasi Hotel Senggigi (AHS) menyatakan, ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel ini perlahan menggerus kenyamanan konektivitas penerbangan internasional menuju Lombok.
Ketua AHS Ketut Murta Jaya mengatakan, ketegangan politik luar negeri berdampak besar pada hunian kamar hotel.
Menghadapi tantangan ini, AHS kini mendorong para pelaku usaha hotel untuk mulai melakukan diversifikasi pasar.
Ketergantungan pada wisatawan Eropa yang melintasi jalur Timur Tengah harus segera dikurangi. Salah satunya dengan menggarap pasar yang lebih aman dari risiko geopolitik, seperti Australia, Asia Tenggara, Tiongkok, dan India.
Selain pasar mancanegara, pasar domestik tetap menjadi tulang punggung yang harus dijaga. Namun Ketut mengakui, pariwisata domestik saat ini juga terdampak persoalan lainnya. Salah satunya, soal tiket pesawat yang mahal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia.
"Data 2025 di Bali menunjukkan tren kunjungan wisman melonjak, tapi justru kunjungan domestik merosot. Penyebab utamanya adalah harga tiket pesawat yang tidak kompetitif,” jelasnya.
“Ini yang seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah untuk memberikan kebijakan yang lebih ramah bagi pergerakan wisatawan domestik," tegasnya.
Situasi yang kompleks ini dinilai menuntut langkah taktis dari pemerintah. Pengendalian harga tiket pesawat domestik dan efisiensi anggaran Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) menjadi kunci agar sektor pariwisata tetap bisa bernapas di tengah tekanan global.
"Situasinya berat. Kami berharap pemerintah bisa menjaga iklim pariwisata tetap kondusif. Jika negara tetangga bisa membuat penerbangan domestik menjadi murah untuk menggerakkan roda ekonomi, seharusnya kita bisa melakukan hal yang sama," terangnya.
Jaya melanjutkan, pihaknya telah menerima laporan adanya pembatalan reservasi kamar dari wisatawan mancanegara asal Eropa. Meski jumlahnya masih tergolong terbatas, namun fenomena ini menjadi sinyal waspada yang serius bagi pengelola hotel.
Kekhawatiran utama para pelaku hotel bukan sekadar pada pembatalan kamar, melainkan pada terganggunya rantai pasok global.
Pasar Eropa mayoritas menggunakan hub penerbangan melalui Doha (Qatar) atau Dubai (Uni Emirat Arab) sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi wisata di Indonesia seperti Bali dan Lombok.
Jika jalur udara ini terganggu akibat ketegangan di kawasan tersebut, maka konektivitas global menuju NTB akan terdampak signifikan.
Lebih jauh lagi, Ketut menyoroti potensi krisis energi global jika ketegangan merembet hingga ke Selat Hormuz.
"Jika pasokan minyak dunia terganggu, harga BBM pasti melonjak. Ini akan memicu kenaikan harga tiket pesawat secara drastis, yang ujung-ujungnya menekan minat kunjungan wisatawan karena biaya perjalanan menjadi sangat mahal," tuturnya.
“Makanya strategi kita sekarang ini adalah memaksimalkan pasar di luar ketergantungan Timur Tengah,” tandasnya.
Senada, Ketua Asosiasi Travel Indonesia (Astindo) NTB Sahlan M Saleh mengatakan kondisi tersebut memengaruhi target kunjungan wisatawan dari wilayah terdampak konflik.
“Beberapa reservasi melalui industri mengalami postpone (penundaan, Red). Hal ini juga mengganggu target wisatawan di wilayah tersebut,” ujarnya.
Menghadapi ketidakpastian tersebut, Astindo NTB menyusun langkah mitigasi melalui reorientasi pasar. Fokus promosi sementara juga dialihkan ke negara-negara Asia dan Australia yang dinilai relatif aman dari dampak langsung konflik.
“Semua negara tetap kita targetkan, termasuk Timur Tengah, namun dengan kondisi saat ini kita harus realistis,” jelasnya.
Sahlan menambahkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan agen perjalanan internasional untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan wisatawan di NTB, sambil memantau perkembangan eskalasi militer.
Editor : Prihadi Zoldic