Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Geliat Ekonomi Masyarakat di Desa Lantan, Ubah Pipa Bekas Menjadi Kerajinan Lampu Hias

Lestari Dewi • Minggu, 21 Januari 2024 | 18:45 WIB

 

Muhammad Tayib Ibrahim sedang mengukur potongan pipa bekas menjadi alas tempat minuman gelas dikediamannya, Dusun Kesah, Desa Lantan, Kecamatan Batukliang Utara.
Muhammad Tayib Ibrahim sedang mengukur potongan pipa bekas menjadi alas tempat minuman gelas dikediamannya, Dusun Kesah, Desa Lantan, Kecamatan Batukliang Utara.

Ditangan Muhammad Tayib Ibrahim, sebuah pipa bekas bisa menjadi nilai ekonomi dan seni yang tinggi. Bermodalkan kreativitas dan pengetahuan dari YouTube, ia pun mencoba berkreasi membuat aneka kerajinan lampu hias yang menawan.

-----------

LAMPU yang cantik dan menawan berjajar rapi mengitari berugak ukuran dua kali dua meter. Mulai dari warna biru, hijau, putih, merah, hingga merah muda. Di bawah lampu, ada pula aneka tempat minuman gelas berbagai ukuran, kotak tisu hingga kotak perhiasan. Mereka menampilkan pola-pola yang cantik dan menawan. Tak terkecuali pola kaligrafi.

Siapa sangka, aneka kerajinan tersebut terbuat dari pipa-pipa bekas yang sudah tak terpakai. Didapat dari limbah proyek bangunan disekitar kampung kediaman Muhammad Tayib Ibrahim berada. Melihat banyaknya sampah pipa bekas, membuat hati Ibrahim, sapaan akrab, tergerak.

Ibrahim menggali informasi dan pengetahuan dari YouTube, dapat dimanfaatkan seperti apa saja limbah pipa-pipa bekas. Serta bagaimana cara mengukir sketsa kaligrafi ke atas pipa. Maklum saja, ternyata bapak satu anak itu lulusan salah satu pondok di Lombok Tengah. Keahliannya tersebut lantas membawanya menemukan peluang baru untuk mendulang cuan.

Saat ditemui Lombok Post, Ibrahim memaerkan kebolehannya dalam membuat hasta karya. Kedua matanya tampak fokus pada sketsa kaligrafi yang tertuang di permukaan pipa bekas. Memakai mesin bor, Ibrahim kemudian mengukir setiap bagian sketsa hingga menampilakn pola khas nan cantik.

“Saat mengukir ini kita harus berhati-hati, jika polanya patah kena mesin ya gagal. Harus ulang lagi dari awal,” ujarnya.

Pipa bekas yang menjadi bahan dasar kerajian ini, sambung Ibrahim, didapat dari limbah proyek bangunan. Biasanya dia akan berkeliling dan meminta ijin kepada pemiliknya sebelum memungut barang tersebut. Setelah didapat, ia kumpulkan dan bersihkan dengan cara dicuci.

Proses pembuatan lampu hias ini terbilang cepat karena Ibrahim sudah terbiasa. Hanya satu jam saja dia berhasil menyulap barang tak terpakai itu menjadi kerajinan bernilai tinggi. Sebab tak dipungkiri, dari kerajinan itulah Ibrahim berharap agar kondisi ekonominya membaik.

Pembuatan lampu hias bermotif kaligrafi, kata dia, bisa disesuaikan dengan pesanan konsumen. Semakin rumit detailnya bakal berpengaruh juga pada waktu pengerjaannya. Tak jarang pula ada konsumen meminta memakai pipa yang baru.

“Ada yang pesan lampu hias, tapi request pipa yang baru karena dalam jumlah banyak,” kata Ibrahim yang mengenakan peci berwarna putih ini.

Menurut Ibrahim, butuh ketelatenan ekstra saat mengukir memakai mata bor. Semakin kecil guratannya, pola yang dihasilkan kian istimewa. Lampu hias dari pipa bekas ini, lanjutnya, sudah mendapat respon positf dari pembeli.

Namanya usaha, diakui Ibrahim ada pasang surut. Meski lampu hias beraneka warna yang dibuatnya berdaya jual tinggi, diakui masih terkendala dalam segi pemasarannya.

Sehingga untuk sementara Ibrahim masih menerapkan metoda lama. Menjual barang kerajinannya dari mulut ke mulut. Namun satu sisi tetap mencoba memamnfaatkan media sosial.

“Lampu hias yang dijual harga satuannya beragam, tergantung motif dan pola. Kisaran Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu. Sudah lengkap dengan colokan dan bohlam,” pungkasnya. (lestari dewi)

Editor : Redaksi Lombok Post
#kreativitas #bekas #Desa Lantan #Pipa