Selain terkenal dengan keindahan pesona alamnya, Pulau Lombok juga memiliki ragam kuliner khas yang nikmat. Salah satunya hidangan cacing laut “nyale”.
Warga lokal biasa sajikan nyale dalam bentuk pepes, goreng atau tumis hingga berkuah santan.
----------
NYALE merupakan hidangan spesial khas masyarakat Lombok yang biasa dinikmati sekali dalam satu tahun.
Yaitu, Festival Pesona Bau Nyale yang biasanya jatuh pada bulan Februari hingga Maret.
Saat waktunya tiba, masyarakat akan berbondong-bondong memburu cacing laut di sejumlah pantai salah satunya Pantai Seger, Desa Kuta, Kecamatan Pujut.
Usai berburu nyale, masyarakat pun akan mengolah hidangan laut ini menjadi berbagai santapan, biasanya disajikan dalam bentuk pepes, goreng atau tumis, atau menjadi hidangan berkuah santan.
Bahkan, bak sashimi ala Jepang ada pula dari beberapa mereka yang senang menyantap nyale mentah-mentah.
“Banyak macam untuk sajikan nyale, sampai-sampai ada yang makan mentah-mentah,” ungkap Sari Handayani warga Desa Kuta yang menjual hidangan pepes nyale di pinggir jalan raya.
Menurutnya, rasa nyale cukup unik. Aromanya serupa dengan makanan laut pada umumnya.
Hanya saja tekstur nyale yang telah dimasak akan mirip seperti hati ayam, dibalut dengan bumbu rempah khas Lombok yang pedas dan lezat.
“Rasa pedas lebih mantap,” ujarnya sambal acungi dua jempol keatas.
Terpisah, pemangku adat Pujut Mujahiddin mengatakan, nyale bukan sekadar hidangan.
Ia memiliki sejarah panjang yang berasal dari cerita legenda lokal “Putri Mandalika” yang dipercaya oleh masyarakat Lombok.
Putri Mandalika menceburkan diri ke laut akibat suatu permasalahan yang pernah ada pada masa kerajaan di Lombok.
Konon, setelah sang putri tenggelam di laut, muncul binatang kecil yang jumlahnya banyak. Hingga kini disebut sebagai nyale.
Masyarakat Lombok percaya, binatang berupa cacing laut ini adalah jelmaan Putri Mandalika.
Sehingga ketika Festival Pesona Bau Nyale tiba, mereka akan berlomba-lomba mengambil cacing laut ini sebanyak-banyaknya.
“Kemudian untuk diolah menjadi ragam hidangan sebagai simbol rasa cinta kasih,” tukasnya. (lestari dewi)
Editor : Kimda Farida