LombokPost--Bosan dengan lokasi ngabuburit yang itu-itu saja? Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Loteng menawarkan nuansa berbeda.
Pengunjung tinggal pilih mau berbuka puasa dengan nuansa hutan bambu atau hijaunya persawahan. Bak flashback era tempo dulu.
-----------------------
BILA bersantai di pantai terlalu mainstream, nongkrong cantik di restoran kadang bikin jaim. Koran ini punya rekomendasi tempat ngabuburit sekaligus berbuka puasa bersama pacar, sahabat, pasangan maupun keluarga.
Dengan nuansa bak kembali ke era tempo dulu yang nyaman. Yaitu, Desa Wisata Bonjeruk di Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah (Loteng).
Tepatnya adalah Pasar Bambu Bonjeruk, berlokasi di Dusun Bat Peken, Desa Bonjeruk.
Tempat ini awalnya berupa kebun bambu tak tersentuh, dipenuhi sampah, nyamuk dan juga ular.
Namun kini menjadi salah satu lokasi favorit untuk ngabuburit sembari berbuka puasa.
Ketika memasuki pintu masuk, pengunjung akan langsung disambut dengan suasana nyaman diiringi angin sepoi-sepoi yang teduh. Seperti bernostalgia ke masa lalu.
Suasana kembali ke desa begitu terasa dengan jejeran berugak.
Dengan total berjumlah 16 unit dengan tipe Sekenam dan Sekepat atau berugak dengan tiang enam dan empat.
“Sejuknya pepohonan rumpun bambu, berugak-berugak ditambah penampilan karyawan memakai baju adat lambung Sasak rasanya membawa saya dan keluarga kembali ke zaman dulu,” ungkap Emma Widiawati salah satu pengunjung yang ngabuburit di Pasar Bambu Bonjeruk.
Selain Pasar Bambu Bonjeruk, sekitar ratusan meter terdapat Warung Bambu 2 Bonjeruk.
Menghadirkan konsep segar dan sejuknya persawahan diyakini mampu menyegarkan pikiran dan melepaskan penat setelah seharian bekerja.
Di sini juga berjajar berugak Sekenam dan Sekepat, lesehan maupun rumah panggung.
“Sebagai pengunjung kita diberikan pilihan apakah menyukai yang hutan bambu atau area persawahan seperti ini. Keduanya benar-benar bagus, nyaman dan asri,” kata Mita warga asal Praya, Loteng ini.
Ia pun sengaja memilih ngabuburit bersama keluarga di Warung Bambu 2 Bonjeruk.
Sebab dapat melihat hamparan sawah yang hijau bak permadani.
Semilir angin yang sejuk. Sembari menikmati pedasnya Ayam Merangkat yang ditemani manis segarnya es kelapa muda.
“Kedua tempat ini instagramable banget, untuk menu andalannya adalah Ayam Merangkat, menjadi menu favorit keluarga setiap kemari,” imbuh Mita.
Berlatar Sejarah
Pasar Bambu Bonjeruk diprakarsai oleh dua tokoh muda setempat, yakni Syarif Hidayatullah dan Usman. Keduanya tertantang untuk menjadikan desanya sebagai destinasi wisata dengan latar belakang wisata sejarah.
Desa Bonjeruk merupakan desa tertua di Gumi Tatas Tuhu Trasna, yang berdiri tahun 1886. Namun keberadaannya konon sudah ada sejak tahun 1852.
Bila menjejakkan kaki di desa ini, pengunjung akan menemukan beberapa bangunan tua masih berdiri kokoh terlihat mencolok di antara rumah penduduk.
“Di era kolonial, tempat ini adalah pusat pemerintahan tingkat Distrik Jonggat,” ungkap Dayat akrab disapa.
Baca Juga: Pemerintah Buka Lagi Penyaluran Beras SPHP, NTB Dijadwalkan Sebelum Lebaran
Sehingga tak heran, jika Desa Wisata Bonjeruk memiliki daya pikat tersendiri bagi para wisatawan apalagi yang senang dengan wisata sejarah.
Bangunan ikonik lainnya adalah Masjid Raden Nunu Unas yang dibangun tahun 1800-an.
“Melihat latar sejarah ini, menjadi pertimbangan bagi warga, masyarakat maupun wisatawan datang berkunjung. Lebih-lebih pada momen puasa ini, ngabuburit sambil wisata sejarah,” ucap mantan fotografer Prokopim Pemda Loteng ini.
Diinisiasi tahun 2018, Pasar Bambu Bonjeruk sempat mengalami pasang surut dikarenakan gempa yang melanda pulau Lombok.
Baru mulai menggeliat di tahun 2019, Pasar Bambu Bonjeruk juga harus rela tutup selama hampir dua tahun lantaran terkena dampak pandemi Covid-19.
“Lambat laun, kami pun bisa menghadirkan Warung Bambu 2 Bonjeruk, setahun lalu,” tambah Dayat.
Pasar Bambu Bonjeruk dan Warung Bambu 2 Bonjeruk mulai diserbu oleh para pengunjung yang dominan merupakan wisatawan lokal dan domestik.
Dari jam makan siang hingga makan malam, keduanya ramai dikunjungi setiap hari. Kecuali saat bulan puasa, kedua lesehan ini hanya menerima kunjungan untuk berbuka puasa.
Pengunjung tak perlu khawatir, fasilitas di kedua lesehan ini sudah lengkap.
Untuk toilet, pihaknya, mendapatkan penghargaan sebagai Toilet Desa Wisata paling bersih se-Indonesia pada ajang Anugerah Desa Wisata 2021.
Kemudian ada musola bagi pengunjung muslim yang hendak menunaikan salat.
Dayat berharap, Desa Wisata Bonjeruk kian diminati wisatawan baik mancanegara, domestik maupun warga lokal.
Sebab sebagai pengelola dan bagian pokdarwis berharap label desa wisata ini dapat mendorong perekonomian warga setempat. (Lestari Dewi/r3)
Editor : Kimda Farida