Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melihat Ritual Budaya Bepupek di Desa Sesela Gunungsari, Ada Proses Basahi Kepala di Makam Keramat

Galih Mega Putra S • Sabtu, 18 November 2023 | 08:29 WIB
PAKAI GAYUNG: Seorang tokoh menyiramkan kepala anak-anak pada pelaksanaan Ritual Bepupek di Desa Sesela.(Ahmad Ijtihad for LOMBOK POST)
PAKAI GAYUNG: Seorang tokoh menyiramkan kepala anak-anak pada pelaksanaan Ritual Bepupek di Desa Sesela.(Ahmad Ijtihad for LOMBOK POST)

LombokPost - Masyarakat Desa Sesela, Kecamatan Gunungsari memiliki ritual budaya yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Kegiatan itu dipercaya sebagai sarana menolak segala bentuk marabahaya. 

Ratusan warga memenuhi jalan raya Desa Sesela. Ada anak-anak, dan juga orang dewasa. Semangat mereka semakin menghidupkan suasana malam. Mereka membawakan obor dari kantor desa setempat. Pawai tersebut berakhir di makam keramat desa tersebut.

Sesampainya di Makam Keramat, warga memanjatkan doa dengan dipimpin oleh seorang tokoh agama. Itu merupakan rangkaian ritual Bepupek yang rutin diselanggarakan setiap tahun di desa tersebut. Melalui kegiatan budaya tersebut, warga mempercayainya sebagai media memohon perlindungan kepada Yang Maha Kuasa agar dijauhkan dari segala marabahaya.

"Ritual Bupepek tahun ini mengangkat tem, Talo Bala Negeri Sesela, atau tolak bala' di Desa Sesela," kata Ahmad Ijtihad, Ketua Komunitas Ampure Sesela.

Komunitas Ampure Sesela yang menginisasi ritual Bupepek, merupakan komunitas pemuda yang peduli terhadap budaya dan sosiokultural desa setempat. Ijtihad mengaku, dalam pelaksanaan ritual itu, ada proses menyirami kepala dengan menggunakan air yang diambil di sebuah satu sumur tua. "Memupuk kepala ini harus menggunakan gayung, tidak boleh lainnya," kata Ijtihad.

Proses penyiraman kepala dipimpin TGH. Munajib Kholid, tokoh agama setempat. Ijtihad mengaku, melalui penyiraman air ke kepala itu, dipercaya mampu menyembuhkan segala macam penyakit. "Memupuk kepala dengan air sembari dibacakan doa-doa keselamatan," katanya lagi.

Rangkaian Ritual Bepupek tahun ini dimulai dari tanggal 1-16 November. Ijtihad mengaku, biasanya diselenggarakan setiap Bulan Maulid. Tetapi karena sejumlah alasan, akhirnya diundur dan baru bisa dilaksanakan. "Kita awali dengan riset kolektif," jelasnya.

Yaitu kegiatan menghimpun tradisi lisan warga Sesela. Cerita tutur warga itu nantinya akan ditulis dan dibukukan. "Mengingat Sesela sebagai salah satu desa yang memiliki sejarah yang kuat  dan khazanah pengetahuan kebudayaan yang tinggi," imbuhnya.

Dia mencontohkan dengan cerita tentang Dinde Siti Fatimah atau Dewi Sungkarwati. Sang putri disebut memiliki nama asli Dwi Mas Pekel Anjani. "Merupakan seorang putri tanah Selaparang yang hilang pada saat berburu rusa putih. Tempat hilangnya dijadikan sebagai tempat makam keramat," ceritanya.

Kata dia, cerita itu didapat dari berbagai sumber. Itu kemudian didiskusikan bersama melalui agenda Tumpangsile atau ruang diskusi untuk mengkaji berbagai persoalan sosiokultur warga.

"Ritul Bepupek ini salah satu rangkaian acara HUT Desa Sesela yang ke-143. Ini bentuk pelestarian budaya peninggalan nenek moyang kami," pungkas Ijtihad.(bib/r3)

Editor : Rury Anjas Andita
#ritual #Lobar #Sesela