LombokPost – Bursa kursi definitif Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Barat (Lobar) mulai menghangat.
Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini memberikan sinyal kuat bahwa proses seleksi melalui Panitia Seleksi (Pansel) akan segera bergulir dalam waktu dekat.
"Ya mungkin nanti sekitar akhir Maret atau April sudah mulai dibuka (Pansel Sekda)," ujar Bupati LAZ, sapaannya menanggapi pertanyaan wartawan.
LAZ mengisyaratkan bahwa tahapan Pansel kemungkinan besar dimulai pada medio akhir Maret atau awal April mendatang tergantung kesiapan tim pansel.
Mengingat kekosongan jabatan birokrat tertinggi di Gumi Patut Patuh Patju tersebut tak boleh terlalu lama meski saat ini sudah dijabat Pj Sekda Ahmad Saikhu yang juga menjabat Asisten II Setda Lobar.
Ditanya mengenai kriteria calon sekda yang diinginkan, LAZ menegaskan bahwa dirinya tidak ingin berandai-andai mengenai nama tertentu yang muncul di permukaan.
Baginya, siapa pun yang memenuhi syarat secara aturan, dipersilakan untuk bertarung dalam seleksi terbuka nanti.
"Siapa pun (boleh mendaftar). Saya belum bicara sosok karena belum ada Pansel-nya. Jangan terus berandai-andai, ini kan tidak boleh," tegasnya.
Mantan Dirut PT Air Minum Giri Menang ini menekankan, profesionalisme dan kepatuhan terhadap aturan main menjadi landasan utama dalam mencari pendampingnya di eksekutif.
Meski enggan menyebut nama, LAZ memiliki kriteria khusus bagi calon Jenderal ASN Lobar tersebut.
Dia mendambakan sosok Sekda yang mampu menyelesaikan segala persoalan internal pemerintahan secara tuntas.
Hal ini penting agar dirinya sebagai Bupati bisa lebih fokus menjalankan fungsi lobi ke tingkat pusat demi membawa program pembangunan ke daerah.
"Saya berharap ke depan urusan internal tidak terlalu jauh saya ikut campur. Saya akan lebih fokus untuk lobi-lobi yang sifatnya ke pusat," ungkap LAZ.
Menurutnya, Sekda yang ideal adalah manajer yang mumpuni dalam mengelola ritme kerja birokrasi di bawah, sehingga roda pemerintahan tetap berjalan stabil tanpa harus selalu melibatkan kepala daerah pada teknis administratif.
Dalam analogi yang cukup menarik, LAZ menggambarkan sosok Sekda yang dibutuhkannya seperti sebuah kendaraan yang memiliki performa mesin luar biasa namun tetap aman dikendalikan.
"Dia bisa bekerja, bisa bawa mobil lari kencang, tapi remnya juga cakram. Harus bisa mengemudi dengan kecepatan tinggi tapi penuh kendali," pungkasnya sembari berseloroh.
Pernyataan ini seolah menjadi pesan bagi para pejabat eselon II di lingkup Pemkab Lobar maupun luar daerah yang berminat bahwa menjadi Sekda di era LAZ bukan sekadar soal jabatan, melainkan soal kecepatan kerja dan ketepatan dalam mengambil kebijakan.
Editor : Kimda Farida