
LombokPost-Perubahan cuaca selama masa pancaroba meningkatkan risiko sejumlah penyakit, mulai dari demam berdarah dengue (DBD), infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga gangguan pencernaan seperti diare dan tipus.
“Perubahan suhu dan kelembapan yang drastis membuat tubuh harus beradaptasi,” jelas Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah NTB dr Rohadi.
Kondisi tersebut bisa memengaruhi daya tahan tubuh sehingga masyarakat perlu lebih waspada terhadap berbagai penyakit. Genangan air pada awal musim hujan, misalnya, menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti penyebab DBD.
Sementara debu di akhir musim kemarau, dan perubahan suhu ekstrem dapat memicu gangguan pernapasan, seperti batuk, pilek, influenza, hingga bronkitis.
“Debu dan angin kencang juga berpotensi membawa kuman yang mencemari makanan dan minuman sehingga memicu diare maupun tipus,” terang pengajar di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unram tersebut.
Baca Juga: Musim Pancaroba Ancam Kesehatan Sapi Umbaran di Sembalun, Peternak Diminta Waspada Penyakit
Kelompok yang paling rentan meliputi anak-anak, terutama balita, lansia, serta penderita penyakit penyerta seperti asma, alergi kronis, diabetes, dan penyakit jantung.
Anak-anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum matang, sedangkan fungsi organ dan sistem imun lansia mulai menurun. Pada penderita komorbid, perubahan cuaca dapat memicu kekambuhan penyakit.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain demam mendadak atau bertahap, bersin, hidung tersumbat, batuk, nyeri tenggorokan, hingga sesak napas.
“Gangguan pencernaan seperti mual, muntah, lemas, dan buang air besar lebih cair juga perlu diperhatikan,” ujarnya.
Sakit kepala, nyeri sendi, pegal otot, serta kelelahan tanpa aktivitas berat menjadi tanda lain yang perlu diwaspadai.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




