
LombokPost - Memulai diet sering kali terasa mudah. Apalagi ketika semangat ingin memiliki tubuh ideal sedang tinggi-tingginya. Namun, mempertahankan komitmen ternyata jauh lebih sulit.
Godaan makanan favorit, kebiasaan ngemil, hingga ajakan nongkrong kerap membuat niat hidup sehat berujung wacana.
Senin berjanji mengurangi nasi, Selasa mulai menghindari makanan manis, tetapi Rabu sudah kembali berburu camilan. Begitulah siklus diet yang mungkin terasa akrab bagi sebagian orang.
Target menurunkan berat badan sudah disusun, berbagai metode diet telah dicoba. Namun, di tengah rutinitas dan godaan kuliner yang sulit ditolak, konsistensi justru menjadi tantangan terbesar. Diet pun berkali-kali dimulai, tetapi tak jarang berhenti di tengah jalan.
Baca Juga: Ucapan Lawas Pandji soal Raffi Ahmad Kembali Viral, Singgung Posisi di Lingkaran Pemerintah
Eriani, 36 tahun, pekerja swasta di Mataram, pernah merasakannya. Namun, perjalanan panjangnya menjaga berat badan justru mengajarkan bahwa diet bukan sekadar soal angka di timbangan.
Pada Mei 2018, Eriani mulai memutuskan diet. Saat itu, berat badannya mencapai 90 kilogram. Belum menikah, dia merasa kenaikan berat badannya sudah jauh melebihi kebiasaan.
Keinginan untuk kembali memiliki tubuh yang lebih ideal membuatnya mulai mencari berbagai cara menurunkan berat badan secara alami melalui media sosial.
Dari sejumlah informasi yang ditemukan, salah satu yang menarik perhatiannya adalah anjuran mengurangi konsumsi tepung, garam, dan gula.
Tips tersebut banyak muncul dalam video kesehatan yang ditontonnya, termasuk konten dokter Zaidul Akbar.
“Waktu itu di Facebook berkeliaran itu videonya dokter Zaidul Akbar, wuih kayaknya bisa dicoba nih, dulu mikirnya begitu,” kenangnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!



