Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tengkong Mulai Diburu! Lapak Jamur Bulan Bermunculan di Lingkar Selatan

Lalu Mohammad Zaenudin
Pedagang tengkong atau jamur bulan yang tengah melapak di Jempong, Limgkar Selatan.
Pedagang tengkong atau jamur bulan yang tengah melapak di Jempong, Limgkar Selatan.

 


Advertisement

Dari tanah-tanah lembap, dari kayu-kayu lapuk yang tersentuh air, muncul satu tanda musim yang sudah lama dikenali warga: jamur bulan. Ia tumbuh diam-diam, sebentar, lalu menghilang lagi ketika hujan berhenti.

 

----

Advertisement


RUAS jalan di kawasan Lingkar Selatan Jempong, sekitar Tugu Mataram Metro berubah sedikit lebih ramai. Bukan oleh pasar besar, melainkan lapak-lapak kecil yang muncul di tepi jalan. 

Di atas karung plastik atau tikar tipis, jamur berwarna krem pucat disusun rapi. Ada yang tersaji di atas piring, lainnya lagi ditusuk berjajar pada bilah bambu, sebagian lain dikemas dalam plastik bening.

“Agak sulit sekarang pak,” ujar Aswi, salah seorang penjual tengkong atau jamur bulan, berupaya meyakinkan harganya masih realistis, pada koran ini, Senin (26/1). 

Advertisement

Ia dan penjual lainnya datang sejak pagi. Memanfaatkan momen ketika pasokan jamur sedang banyak dicari orang. 

Bagi sebagian warga, keberadaan lapak-lapak itu menjadi penanda musim jamur bulan benar-benar telah tiba. “Orang-orang juga mulai cari,” imbuhnya. 

Jamur bulan merupakan salah satu sayur musiman favorit masyarakat. Teksturnya kenyal, aromanya khas, dan rasanya dianggap lebih “hidup” dibandingkan sayuran budidaya. 

Ia sering diolah secara sederhana: ditumis dengan bawang dan cabai, dimasak bening, atau digoreng sebagai lauk pendamping nasi.

“Apalagi kalau dibakar (dipanggang, Red) lebih nikmat,” jelasnya. 

Di lapaknya, Aswi menjual jamur bulan dalam satuan porsi. Satu porsi biasanya berupa satu ikat atau satu kemasan plastik kecil berisi beberapa helai jamur berukuran sedang hingga besar. 

Harganya berkisar antara Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu per porsi. “Kalau yang besar-besar dan masih segar, Rp 25 ribu. Kalau sedang, Rp 20 ribu,” katanya.

Jamur-jamur itu tidak ia cari sendiri. Setiap pagi, ada warga yang datang membawa hasil buruan mereka. 

Mereka menyusuri kebun, semak-semak, hingga area yang banyak ditumbuhi kayu lapuk, mencari jamur yang muncul setelah hujan semalaman. “Mereka memang sudah biasa cari jamur. Sudah tahu tempatnya di mana,” ujarnya.

Warga yang berburu jamur umumnya memiliki pengetahuan turun-temurun tentang jenis jamur yang aman dikonsumsi. Mereka mengenali bentuk, warna, serta ciri-ciri jamur bulan yang biasa dimakan. 

Dari hasil buruan itulah, pasokan ke para penjual kemudian mengalir. Bagi para pencari jamur, aktivitas ini bukan sekadar hobi. 

Dalam kondisi tertentu, hasil penjualan jamur bisa menjadi tambahan penghasilan. “Lumayan buat beli beras atau kebutuhan dapur,” katanya.

Di sisi lain, bagi pembeli, jamur bulan lebih dari sekadar sayur. Ia membawa kenangan.

Nurhayati, salah seorang warga yang singgah membeli, mengaku selalu mencari jamur bulan setiap musim hujan. “Dulu waktu kecil, kalau hujan, orang tua sering masak tengkong. Sekarang kalau lihat ada yang jual, pasti beli,” katanya.

Ia biasanya mengolah jamur bulan dengan cara ditumis sederhana. “Pakai bawang putih, bawang merah, cabai, sedikit terasi. Sudah enak,” ujarnya.

Kemunculan jamur bulan yang singkat justru membuatnya terasa istimewa. Tidak seperti sayuran pasar yang tersedia sepanjang tahun, jamur bulan hadir mengikuti siklus alam. 

Ada musimnya, ada masanya. Di tengah kota yang terus bergerak, jamur bulan seolah mengingatkan sebagian sumber pangan masih bergantung pada hujan, tanah, dan kesabaran. 

Dari semak-semak yang basah, berpindah ke tangan para pencari, lalu ke lapak-lapak kecil di pinggir jalan, hingga akhirnya tiba di meja makan. Musim hujan pun tidak hanya membawa cerita tentang banjir atau cuaca buruk. 

Di sudut-sudut Kota Mataram, ia juga menghadirkan cerita sederhana tentang warga yang berburu jamur bulan, dan tentang sayur musiman yang selalu ditunggu ketika hujan datang. “Tanpa tengkong rasanya musim hujan tak lengkap,” tutup Nur, sambil tersenyum.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Wisatawan yang ke Sembalun Diminta Waspada saat Musim Hujan

Wisatawan yang ke Sembalun Diminta Waspada saat Musim Hujan

Memasuki peralihan musim tahun ini, Camat Sembalun mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk mewaspadai potensi bencana alam di Sembalun.

Antisipasi Ancaman Penyakit di Musim Hujan, Begini Imbauan Dinkes Lombok Tengah

Antisipasi Ancaman Penyakit di Musim Hujan, Begini Imbauan Dinkes Lombok Tengah

Dinkes Loteng menekankan pentingnya langkah pencegahan dini agar tidak terjadi lonjakan kasus penyakit dan KLB di musim penghujan

MotoGP Jadi Penyemangat Warga Sade Percepat Pembangunan Rumah

MotoGP Jadi Penyemangat Warga Sade Percepat Pembangunan Rumah

dorongan kuat yang membuat warga bergerak cepat membangun kembali tempat tinggal yakni menyambut MotoGP serta mengantisipasi musim hujan

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer