
LombokPost – Data pendidikan menyisakan catatan serius. Di balik statusnya sebagai ibu kota Provinsi NTB, sebanyak 22,47 persen penduduk tercatat tidak atau belum mengenyam pendidikan.
Data ini mengutip dari situs databoks pada tahun 2024. Angka ini memantik kekhawatiran DPRD.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Mataram dari Fraksi Gerindra Herman, menyebut kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele. “Ini sangat miris dan memprihatinkan,” ujarnya, Senin (30/3).
Data ini diperoleh dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil). Dari total sekitar 461,94 ribu penduduk Kota Mataram pada 2024, hanya 12,76 persen yang menamatkan pendidikan tinggi.
Sementara itu, lulusan SMA mendominasi 28,36 persen, disusul SMP 12,42 persen dan SD 8,72 persen. Di sisi lain, masih ada 15,29 persen penduduk yang belum tamat SD.
Herman menegaskan, sebagai pusat pemerintahan dan barometer kemajuan NTB, kondisi ini menjadi alarm serius bagi kualitas sumber daya manusia. “Data dan persoalan ini tidak bisa dianggap enteng. Kota Mataram sebagai ibu kota provinsi seharusnya menjadi barometer, tapi faktanya masih banyak yang tidak tamat sekolah dasar,” tegasnya.
Ia menilai, jika tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi menghambat arah pembangunan kota. Terutama dalam mendorong sektor jasa yang menjadi karakter utama ekonomi daerah ini.
Di sisi lain, diskursus ini juga membuka ruang interpretasi terhadap data. Sebagian angka “tidak/belum sekolah” memang bisa mencakup anak usia dini yang belum masuk usia sekolah.
Namun, tidak seluruh angka tersebut bisa dijelaskan dengan faktor usia. “Tidak semua itu anak yang belum waktunya sekolah,” ujarnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!



