LombokPost-Pengerjaan panggung amfiteater yang merupakan bagian dari teras Udayana terus dikebut. Sejauh ini pengerjaan panggung kolosal itu masih berlangsung untuk pengerjaan fisik bangunan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram H Nizar Denny Cahyadi mengatakan, pembangunan konstruksi sesuai dengan target yang diharapkan. “Per hari ini sudah 71,06 persen,” katanya pada Lombok Post, Selasa (31/10).
Capaian pengerjaan itu cukup progresif. Hal ini terlihat dari dilampauinya target pengerjaan yang sudah dituntaskan. “Dengan deviasi positif 0,51 persen,” paparnya.
Panggung amfiteater ini dirancang agar mampu menampung sekitar 3.000 penonton. Kapasitas yang sangat besar sehingga pengerjaan konstruksi harus memperhatikan aspek kesesuaian volume bahan pengerjaan. Sehingga keselamatan pengguna panggung terjamin saat pemanfaatannya nanti.
Teras Udayana selain berupa panggung amfiteater, terdapat pula lapak untuk pedagang UMKM. Pengerjaan fisik bangunan akan berlangsung selama 5 bulan sejak kontrak ditandatangani atau sampai tanggal 14 Desember 2023.
Panggung amfiteater ini dibangun di atas lahan 1.000 meter persegi. “Kita mencontoh gelanggang pertunjukan di Ubud Bali yang setiap akhir pekan mementaskan Tari Kecak menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang,” jelasnya.
Denny berharap panggung itu bisa menjadi lokasi strategis bagi para pelaku seni ibu kota. Mengembangkan minat dan bakat, serta beratraksi di hadapan ribuan penonton yang datang.
“Bisa dimanfaatkan untuk menggelar pertunjukan sebagai bagian promosi pariwisata,” harapnya.
Komisi 2 DPRD Kota Mataram memberikan atensi serius akan keberadaan panggung kesenian itu. Tidak hanya dari aspek progresifitas pembangunan fisik bangunan tetapi dari pengembangan kegiatan ke depan.
“Jangan hanya membangun tetapi, akhirnya jadi mangkrak dalam artian tidak termanfaatkan dengan baik,” kata Ketua Komisi 2 DPRD Kota Mataram Herman.
Wanti-wanti ini perlu ia sampaikan sendini mungkin agar tidak ada lagi bangunan mubazir di ibu kota. “Karena progresifitas pembangunan fisiknya sudah cukup bagus, ya artinya setelah selesai nanti jangan disia-siakan,” tekannya.
Sebagai mitra kerja dinas pariwisata, pihaknya mendorong agar segera dibentuk tim kecil untuk membahas kalender event yang digelar di panggung itu. “Oh ya, harus itu dibahas mulai sekarang. Bangun komunikasi dengan para pelaku seni dan budaya, agendakan mereka tampil di sana. Kenapa perlu dibahas mulai sekarang agar pelaku seni dan budaya juga punya rasa memiliki terhadap bangunan itu dan dapat ikut mengawasi panggung yang akan menjadi masa depan pertunjukan mereka,” tekannya.
Ia berharap panggung kesenian itu menjadi episentrum pertunjukan seni dan kebudayaan. “Dan menjadi salah satu objek wisata yang dibanggakan,” paparnya.
Politisi Gerindra itu juga melihat, panggung kesenian itu berpeluang menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD) bagi ibu kota. Dengan catatan atraksi seni dan budaya di panggung berjalan dengan baik.
“Kenapa tidak, itu bisa menjadi industri hiburan atau showbiz pertama yang ada di Kota Mataram bahkan di NTB,” paparnya.
Aspek pertunjukan yang ditampilkan juga mesti berkualitas. Mendorong minat wisatawan untuk datang dan menonton di tempat itu.
“Dari sana kita bisa berpikir tentang pajak hiburan yang manfaatnya tentu untuk meningkatkan pendapatan membangun daerah,” paparnya.
Herman melihat hiburan saat ini mendapat respons yang bagus di tengah masyarakat. “Jangan sampai panggung hiburan terbengkalai, padahal sudah dibangun dengan anggaran yang besar,” paparnya.
Ia mencontohkan seperti bangunan Wisata Kuliner Ampenan yang dibangun dengan biaya miliaran rupiah tetapi tidak diminati pedagang dan masyarakat. “Ajak para pelaku seni untuk rembuk, jangan sampai bangunan itu tidak diminati para pelaku seni kita,” tekannya.
Selain pelaku seni dan budaya, ada EO juga yang bisa memanfaatkan fasilitas panggung kolosal itu untuk berkegiatan. “Saya pikir ada banyak langkah dan cara untuk membuat panggung itu memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat,” pungkasnya. (zad)
Editor : Marthadi