Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Miris, Banyak Warga Kota Mataram Masih Buang Sampah ke Sungai

Galih Mega Putra S • Selasa, 9 Juli 2024 | 09:43 WIB
BUTUH KESADARAN MASYARAKAT: Sejumlah petugas Dinas PUPR Kota Mataram mengangkut sampah sungai yang menumpuk di atas saluran, akhir pekan lalu. (HARLI/LOMBOK POST)
BUTUH KESADARAN MASYARAKAT: Sejumlah petugas Dinas PUPR Kota Mataram mengangkut sampah sungai yang menumpuk di atas saluran, akhir pekan lalu. (HARLI/LOMBOK POST)

LombokPost-Sampah sungai semakin bertambah. ‘Pasukan Biru‘ terus berjibaku membersihkan sampah tersebut yang tak kunjung ada habisnya.

”Kesadaran masyarakat masih rendah untuk tidak membuang sampah ke sungai,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram Lale Widiahning.

Pasca banjir, Rabu (3/7) lalu sampah sungai terus bertambah. Biasanya yang diangkut sebanyak 6 ton per hari.

”Sekarang yang diangkut menjadi 14 ton. Melebihi dua kali lipat dari hari biasa,” terangnya.

Itu pun baru dari dua sungai yang meluap. Yakni, Sungai Brenyok dan Unus.

”Kita sisir sampah itu dari hulu hingga hilir untuk kita bersihkan,” ujarnya.

Untuk mengangkat sampah sungai itu, ratusan pasukan biru diturunkan.

”300 orang petugas yang kita turunkan,” jelasnya.

Sampah menjadi pemicu terjadinya banjir. Mengakibatkan, tiga kecamatan di wilayah timur dan selatan Kota Mataram terdampak banjir.

“Sampah ini menghambat arus aliran sungai,” kata dia.

Semua tim diturunkan sebagai bentuk antisipasi banjir. Sebab, persoalan sampah ini menjadi bahan evaluasi atas peristiwa banjir yang terjadi sebelumnya.

”Sekarang juga cuaca tidak menentu, jangan sampai pada saat hujan sehari, wilayah kita kembali banjir,” ungkapnya.

Lale mengatakan, tidak hanya tim pengangkut sampah yang diturunkan. Tim pengeruk sedimentasi sungai juga tetap bekerja.

”Beberapa titik sungai perlu dikeruk, karena dangkal. Kita lakukan sedimentasi agar aliran sungai tidak terhalang,” kata dia.

Secara geografis, Kota Mataram memang berada di hilir. Jika hanya kawasan hulu saja mengalami hujan, Kota Mataram tetap mendapatkan limpahannya.

“Untuk itu perlu saya akan koordinasikan lagi dengan Pemkab Lobar (Lombok Barat) agar bisa sama-sama menangani sampah sungai ini,” ungkapnya.

Petugas yang berada di lapangan hanya akan menjadi bulan-bulanan untuk bekerja.

“Percuma sampah dibersihkan. Masih saja akan tetap muncul. Sehingga yang diperlukan saat ini adalah kesadaran masyarakat,” imbaunya.

Dinas PUPR berkoordinasi dengan dinas terkait. Juga turun ke kelurahan dan lingkungan untuk mensosialisasikan ke masyarakat tidak membuang sampah ke sungai.

”Tetapi, masih saja ada masyarakat yang melakukan tindakan itu. Saya sangat sayangkan itu,” keluhnya. (arl/r3) 

Editor : Kimda Farida
#sampah #Mataram