LombokPost - Di balik sepotong nasi dengan suwiran ayam pedas dan taburan kacang kedelai kriuk.
Resep turun temurun ini tersimpan kisah keluarga yang tak sederhana.
Nasi Balap Puyung Inaq Esun adalah warisan, perjuangan, dan bukti bahwa cinta bisa diwariskan lewat racikan bumbu.
SAAT perbincangan ini berlangsung Rismata Gita atau Sigi, cucu kesayangan Inaq Esun, tengah berada di gerainya yang berada di Jalan Airlangga, Kekalik, Kota Mataram. Suasana siang jelang sore itu hangat, seperti kisah lama yang dituturkannya pada Lombok Post.
Sebuah kisah tentang merek yang Legendaris: Nasi Balap Puyung Inaq Esun.
“Sejak lahir, saya sudah tinggal sama beliau,” tutur Sigit, Kamis (7/8).
Tak seperti cucu-cucu lainnya, ia bukan hanya membantu di dapur, tapi anak yang dibesarkan oleh sang nenek. Ia tahu cara Inaq Esun mengiris cabai, mencampur serundeng, dan memilih ayam.
Ia tahu, cita rasa tak lahir dari dapur semata. Ada tangan yang sabar dan lidah yang terlatih di balik itu semua.
“Beliau wafat tanggal 11, bulan 11, tahun 2011,” ujar Sigit.
Ketika Inaq Esun wafat pada 11 November 2011, bukan anak tertua atau saudara yang ditunjuk sebagai penerus merk dagang, melainkan dirinya. “Sebelum wafat, tahun 2006, nenek sudah menyampaikan langsung di depan semua anak-anaknya, bahwa saya yang mewarisi racikan dan (merek) Inaq Esun,” tuturnya.
Ia sempat bertanya—mengapa bukan saudara yang lebih tua atau lebih dahulu memulai usaha? “Tapi jawaban nenek tetap sama: kamu yang saya pilih,” tuturnya.
Sigit tidak hanya memegang izin usaha. Ia juga menguasai racikan asli Nasi Balap Puyung Inaq Esun.
“Insya Allah, saya paham semua racikannya,” katanya tenang.
Bumbu tidak dibuat oleh sembarang pegawai. “Dari dulu, bumbu hanya boleh dibuat oleh keluarga,” ucapnya.
Sementara, pegawai hanya bantu masak dan melayani. Tapi proses awal, mulai dari pemilihan bahan hingga campuran rempah semua tanggung jawab keluarga. “Diracik keluarga,” ungkapnya.
Bumbu pun tidak asal cemplung. Ada takarannya, bahkan dalam hitungan rumit seperti tingkat bertelurnya ayam.
Sigit menjelaskan, ayam yang dipakai harus ayam kampung, dan tidak boleh lebih dari dua kali bertelur. Jika lebih dari itu, daging dianggap terlalu alot dan manis alaminya hilang.
“Kami percaya, rasa ayam itu berubah,” ucapnya.
Ia menekankan, pemilihan bahan dipilih dengan sangat selektif. “Kalau lebih dari tiga kali bertelur, itu bukan ayam untuk Nasi Balap,” ujarnya.
Meski di era sekarang banyak warung memilih “serba cepat”, Sigit tetap bertahan dengan proses lama yang pelan tapi pasti. Misalnya ayam bakar menurutnya harus melalui proses panjang.
Direbus, dimarinasi, dan dibakar perlahan agar bumbu meresap dan rasa tetap seimbang. “Kalau ada yang goreng langsung atau pakai ayam frozen, itu bukan cara kami, kami bukan jual cepat, kami jaga rasa,” ujarnya.
Warisan besar tentu datang dengan ujian besar pula. Cabang-cabang warung sempat berkembang hingga enam titik.
Salah satu yang tutup adalah cabang di Jempong. Tapi cabang-cabang utama masih aktif, termasuk yang berada dekat Bandara Internasional Lombok dan di beberapa titik di Mataram.
Di era media sosial, banyak warung menggunakan nama “Nasi Balap Puyung”, bahkan mencatut nama “Inaq Esun” tanpa izin. Tapi Sigit tidak gegabah.
“Kami sudah daftarkan HAKI,” terangnya.
Ia memastikan juga hanya warung resmi milik keluarga langsung yang menguasai racikan asli. Begitu juga teknik dapur, dan izin usaha atas nama Nasi Balap Puyung Inaq Esun.
Bagi Sigit, warisan ini bukan hanya soal nasi. Tapi soal harga diri keluarga.
Ia tidak mengejar ekspansi besar-besaran. Tidak tertarik mengejar branding global. Tapi ia percaya: selagi rasa dijaga, warung kecil ini akan tetap jadi kiblat.
“Kadang ada orang datang jauh-jauh, nyari tempat yang paling asli,” ucapnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/*)
Editor : Pujo Nugroho