Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Talbiyah di Tanah Lombok, Rindu ke Baitullah Kian Menguat

Lalu Mohammad Zaenudin • Sabtu, 14 Februari 2026 | 13:04 WIB
Jamaah calon haji dan umrah berlatih tawaf mengelilingi miniatur Ka’bah pada kegiatan manasik di Asrama Haji NTB, Mataram.
Jamaah calon haji dan umrah berlatih tawaf mengelilingi miniatur Ka’bah pada kegiatan manasik di Asrama Haji NTB, Mataram.

 

Langkah ratusan orang seragam, bibir kompak melafalkan talbiyah. Suasana mendadak seperti berpindah jauh dari Mataram ke Tanah Suci.

----

LANGKAH itu bukan sekadar simulasi. Ia adalah latihan dari kerinduan panjang yang akhirnya menemukan bentuk.

Menjelang musim haji 2026 dan di ambang datangnya Ramadan, kegiatan manasik mulai meramaikan Asrama Haji NTB. Latihan ini tidak hanya mengajarkan tata cara ibadah, tapi menghidupkan bayangan perjalanan suci yang selama ini hanya hadir dalam doa.

“Kalau sudah pakai kain ihram begini, rasanya seperti benar-benar di Mekah,” ujar Siti Rahmah (52), calon jamaah asal Lombok Tengah, Sabtu (7/2). 

Matanya berkaca-kaca setelah menyelesaikan putaran tawaf latihan. Di sekeliling miniatur Ka’bah, jamaah berjalan tujuh putaran. 

Ada yang khusyuk, ada yang menahan haru, ada pula yang sesekali tersenyum. Seolah membayangkan dirinya benar-benar berada di Masjidil Haram.

Pembimbing manasik Ustad Ari Suhami (UAS) mengatakan latihan ini bukan sekadar teknis. “Manasik itu latihan fisik dan mental. Kita belajar gerakan, tapi yang lebih penting menyiapkan hati,” katanya.

Momentum menjelang Ramadan membuat suasana manasik semakin dalam. Ramadan adalah bulan pemurnian diri, sementara ke tanah suci adalah puncak perjalanan spiritual.

“Jadi ketika manasik dilakukan sekarang, rasanya seperti menjemput dua ibadah besar sekaligus,” ujarnya.

Di sisi halaman, beberapa jamaah duduk beristirahat. Mereka membuka sandal, mengipasi wajah, lalu saling bercerita tentang masa tunggu keberangkatan.

“Sudah daftar dari 2005. Insya Allah tahun ini berangkat,” kata Salman (63), jamaah lainnya. 

Baca Juga: Gerakan Indonesia ASRI Dimulai dari Tanjung Aan Lombok Tengah

Ia mengaku, setiap mengikuti manasik selalu muncul perasaan yang sama: campuran bahagia dan takut.

“Bahagia karena dekat ke Baitullah. Takut karena merasa belum pantas,” katanya pelan.

Manasik di Asrama Haji NTB memang menjadi bagian penting persiapan jamaah Lombok. Di tempat ini, rukun haji dipraktikkan: ihram, tawaf, sa’i, hingga wukuf simbolik. 

Semua dilakukan agar jamaah tidak lagi canggung saat tiba di Tanah Suci. Namun bagi banyak peserta, pengalaman paling menyentuh justru terjadi pada momen sederhana, ketika mereka pertama kali melihat miniatur Ka’bah dari dekat.

“Begitu lihat Ka’bah, hati langsung bergetar,” ungkap Rahmah kemudian. 

Baca Juga: Tektokan Berburu Puncak dalam Sehari, Cara Baru Menikmati Alam dengan Singkat

Sore perlahan turun. Langit Mataram memucat keabu-abuan. Jamaah terakhir menyelesaikan putaran tawaf latihan.

Di kejauhan, talbiyah masih terdengar: Labbaikallahumma labbaik…

Di tanah Lombok, suara itu memang hanya latihan. Namun di dada para jamaah, ia sudah menjadi panggilan.

Ramadhan tinggal menghitung hari. Dan di antara rindu, manasik menjadi jembatan antara kehidupan sehari-hari di Mataram dan perjalanan agung menuju Baitullah.

Tiba-tiba menguat. Jamaah berhenti melangkah. 

Baca Juga: Pascakasus Keracunan, Dapur SPPG Desa Malaka Lombok Utara Ditutup Sementara

Sebagian merapatkan kain ihram. Sebagian lagi menunduk.

“Menuju Allah itu hanya dua cara, satu dengan ihram. Satu lagi dengan kafan,” kata UAS. 

Kalimat itu menggantung di udara. Ia memandang jamaah satu per satu.

“Kalau belum menuju Allah dengan kafan, maka niatkan menuju Allah dengan ihram. Hanya untuk Allah,” tekannya. 

Ia menekankan, manasik bukan hanya latihan gerakan. Ia adalah latihan menata hati sebelum benar-benar berdiri di depan Ka’bah.

“Dalam ihram, jangan rofas, jangan fasik, jangan jidal,” ujarnya mengingatkan.

“Jangan berkata kotor, jangan berbuat maksiat, jangan bertengkar,” tekannya. 

Ia lalu memberi contoh yang membuat jamaah terdiam. “Nanti saat tawaf, bapak-ibu didorong orang. Laki-laki perempuan bercampur. Tangan bisa bersentuhan. Jangan marah. Jangan emosi. Itu ujian,” nasihatnya. 

Beberapa jamaah mengangguk pelan. UAS kemudian meminta pasangan suami-istri mengangkat tangan. 

Banyak yang terangkat. Disusul jamaah yang berangkat bersama anak.

“Perhatikan baik-baik,” katanya.

“Sebelum berangkat, janji dulu di rumah. Jangan marah di Tanah Suci,” pesannya lagi. 

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih dalam. “Saya sudah berkali-kali lihat. Suami ceraikan istri di depan Ka’bah. Suami tampar istri di depan Ka’bah. Anak bentak ibunya di depan Ka’bah,” tuturnya. 

Suasana mendadak hening. “Itu karena Allah sedang menguji cinta bapak-ibu,” katanya.

“Kalau di depan Ka’bah saja berani marah, bagaimana di luar Ka’bah?” sambungnya. 

Baca Juga: AKP Malaungi Siapkan Praperadilan, Tidak Ingin Masuk Bui Sendiri, Koko Erwin dan AKBP Didik Harus Ditangkap

UAS menegaskan, perjalanan suci ini bukan hanya perjalanan fisik, melainkan perjalanan keikhlasan. “Ikhlas, sabar, tawakal. Itu bekalnya,” ujarnya.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Talbiyah #Manasik Haji 2026 #UAS Ari Suhami #Asrama Haji NTB #Jamaah Lombok