LombokPost - Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram bergerak cepat mematangkan persiapan pemberangkatan Jemaah Calon Haji (JCH) tahun 2026.
Kepastian formasi kelompok terbang (kloter), kuota, hingga kelengkapan atribut jemaah kini telah tersusun secara terstruktur untuk menjamin kelancaran ibadah di Tanah Suci.
“Kami memastikan seluruh tahapan, mulai dari pembagian kloter, pelunasan biaya, hingga atribut jemaah, berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan,” kata Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kota Mataram Amir Wisuda.
Amir mengungkapkan, seluruh tahapan persiapan saat ini tengah memasuki fase finalisasi.
Berdasarkan skema yang disusun, JCH asal Kota Mataram akan terbagi ke dalam tiga kelompok terbang, yakni Kloter 5, Kloter 10, dan Kloter 15.
Amir merincikan, dari total kuota 854 orang yang dialokasikan untuk Ibu Kota Provinsi NTB ini, sebanyak 817 jemaah tercatat sudah melakukan pelunasan biaya perjalanan ibadah haji (BPIH).
Secara teknis, formasi pemberangkatan akan terdiri atas dua kloter utuh dan satu kloter campuran.
Kabar baiknya, seluruh jemaah Mataram diperkirakan masuk dalam pemberangkatan Gelombang I dengan rute penerbangan langsung menuju Madinah.
“Insyaallah, seluruhnya masuk gelombang pertama. Hal ini tentu memudahkan jemaah karena bisa langsung melaksanakan ibadah Arbain setibanya di Tanah Suci,” tambahnya.
Baca Juga: RSUD Ruslan Resmi Buka Poli Vaksin Internasional, Jamaah Haji–Umrah Kini Lebih Mudah
Terkait jadwal keberangkatan, berdasarkan kalender tentatif, para jemaah dijadwalkan mulai memasuki Asrama Haji pada 21 April 2026.
Kloter 5 akan menjadi rombongan perdana yang bertolak menuju Arab Saudi pada 22 April 2026.
Guna membekali jemaah, Pemkot Mataram bersama Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kota Mataram telah menjadwalkan manasik haji tingkat kota selama empat hingga lima hari.
Fokus utama manasik tahun ini adalah penguatan kemandirian jemaah.
Amir menekankan pentingnya jemaah memahami rukun dan wajib haji secara personal agar tidak gagap saat berada di lapangan.
“Kami mendorong jemaah lebih mandiri. Jadi, tidak hanya bergantung pada pembimbing kloter, tetapi benar-benar paham alur ibadah secara mandiri,” tegasnya.
Selain kesiapan mental dan fisik, aspek identitas jemaah juga mengalami pembaruan.
Tahun ini, Pemkot Mataram melakukan terobosan dengan mengganti setelan jas atau jaket dengan rompi dan syal sebagai atribut resmi.
Penggunaan rompi dinilai lebih fungsional dan cocok dengan kondisi cuaca di Arab Saudi, sekaligus lebih efisien dari sisi anggaran.
Saat ini, proses pengukuran rompi telah mencapai angka 80 persen.
“Perubahan atribut ini adalah hasil evaluasi. Rompi dan syal jauh lebih praktis dan memudahkan jemaah untuk saling mengenali di tengah kerumunan massa dari berbagai negara,” pungkasnya.
Sebelumnya, Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang mengatakan, manasik tahun ini akan menghadirkan kolaborasi antara Bagian Kesra Setda Kota Mataram dan IPHI.
Baca Juga: Pemkot Mataram Antisipasi Balap Liar dan Perang Sarung selama Ramadan
Jemaah akan dibekali simulasi virtual yang menggambarkan kondisi nyata di lapangan untuk meminimalisir kebingungan saat tiba di Arab Saudi.
“Materi manasik akan dibuat lebih interaktif. Selain rukun haji, kita tambahkan materi khusus fikih wanita agar jemaah perempuan memiliki pemahaman yang tuntas mengenai kondisi ibadah di tengah keterbatasan. Kami ingin visualisasi Makkah dan Madinah bisa dipahami jemaah sejak di Mataram,” katanya.
Editor : Kimda Farida