Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sampah PKL Musiman Ramadan di Mataram Meluber ke Drainase 

Sanchia Vaneka • Sabtu, 7 Maret 2026 | 10:04 WIB

 

Berburu takjil
Berburu takjil
 

LombokPost - Fenomena munculnya Pedagang Kaki Lima (PKL) musiman selama bulan Ramadhan di Kota Mataram membawa berkah sekaligus tantangan serius bagi kebersihan kota.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram mencatat adanya peningkatan signifikan volume sampah, yang menyumbat saluran drainase dan trotoar di sejumlah titik strategis.

“Dengan adanya PKL dadakan ini, sampah jadi menumpuk. Memang hanya di musim puasa saja para pedagang ini muncul secara masif di titik-titik tertentu,” kata Kepala Dinas PUPR Kota Mataram Lale Widiahing. 

Lale mengungkapkan, menjamurnya PKL dadakan yang menjual takjil dan menu berbuka puasa menjadi pemicu utama penumpukan sampah tersebut.

Menurutnya, pola konsumsi masyarakat yang meningkat selama bulan suci ini berbanding lurus dengan limbah yang dihasilkan di pinggir jalan.

 Baca Juga: 105 PKL Dipindahkan ke Eks Bandara Selaparang

Salah satu jenis sampah yang paling dikeluhkan adalah limbah batok kelapa muda.

Tingginya minat warga Mataram terhadap air kelapa sebagai menu favorit berbuka puasa membuat jumlah pedagang kelapa muda meningkat drastis.

Sayangnya, hal ini tidak dibarengi dengan pengelolaan limbah yang memadai oleh para pedagang.

Lale menekankan, batok kelapa memiliki volume yang besar dan berat, sehingga jika dibuang sembarangan ke trotoar atau saluran air, akan sangat mengganggu estetika dan fungsi drainase.

“Bayangkan saja, satu titik penjual kelapa muda menghasilkan berapa banyak batok. Sekarang titik penjualnya ada di mana-mana. Semuanya menyumbang sampah,” cetusnya. 

Meski sebagian pedagang mulai sadar dengan mengumpulkan sampah mereka secara mandiri, Lale mengakui proses pengangkutan belum sepenuhnya tuntas menjangkau seluruh wilayah.

Saat ini, personel Dinas PUPR dikerahkan untuk fokus melakukan normalisasi pada saluran drainase yang terdampak.

Limbah yang masuk ke gorong-gorong dikhawatirkan akan memicu genangan air jika terjadi hujan lebat, mengingat kapasitas saluran yang menyempit akibat tumpukan sampah batok dan plastik.

“Masyarakat saat ini sangat konsumtif terhadap makanan. Ini menjadi tambahan tugas bagi kami. Konsentrasi kami sekarang adalah memastikan saluran tetap berfungsi dan sampah-sampah di sana segera diangkat,” tambahnya.

Dalam operasionalnya, Dinas PUPR tidak bekerja sendirian.

Lale menjelaskan penanganan kebersihan di Ibu Kota Provinsi NTB ini merupakan tanggung jawab bersama, terutama dalam pembagian tugas dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram.

Petugas dari Dinas PUPR sendiri memiliki jadwal operasional rutin untuk penyisiran dan pengangkutan. 

“Petugas kami di lapangan bekerja mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WITA. Ini adalah kegiatan rutin yang terus kami optimalkan, terutama di momen krusial seperti Ramadhan ini,” pungkasnya.

Pemkot Mataram pun mengimbau agar para PKL musiman lebih bertanggung jawab terhadap kebersihan lokasi berjualan mereka.

Masyarakat diharapkan tidak membuang sisa makanan atau kemasan langsung ke dalam saluran air guna mencegah penyumbatan di penghujung musim penghujan ini.

Sebelumnya, Kepala DLH Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi mengatakan berdasarkan data tahun-tahun sebelumnya, rata-rata volume sampah harian di Kota Mataram berkisar di angka 250 ton.

Saat bulan puasa, angka tersebut diprediksi melonjak hingga 5 ton per hari.

“Lonjakan itu didominasi oleh sampah dari aktivitas pedagang musiman dan PKL yang menjamur selama bulan puasa. Sampah takjil dan sisa dagangan menjadi penyumbang terbesar” jelasnya.  

 

 

Editor : Kimda Farida
#ramadan #Takjil #PKL #Mataram #pedagang kaki lima