Di balik para hafizah Masjid Jalan Cahaya dalam membimbing ibu-ibu yatim, salah satunya Magfiratunnisa yang berjuang melawan vonis autoimun lupus melalui wasilah hafalan Alquran. Alih-alih menyerah pada keterbatasan fisik, gadis asal Sumbawa ini justru menemukan penawar penyakitnya dalam setiap lembar ayat yang ia jaga hingga tuntas 30 juz.
SANCHIA VANEKA, Mataram
Bagi Magfiratunnisa, atau yang akrab disapa Fira, menghafal Alquran bukan sekadar ritual menambah gelar di depan nama. Baginya, setiap hafalan adalah napas tambahan untuk bertahan hidup. Wakahnya tenang saat memandu kelas tahsin bagi para janda dan ibu yatim di Masjid Jalan Cahaya. Ternyata dirinya menyimpan riwayat perjuangan melawan diagnosa medis yang sempat merenggut harapan masa mudanya.
Februari lalu, Fira menggenapkan tiga tahun masa pengabdiannya di Pondok Quran tersebut. Namun, perjalanan menuju 30 juz yang ia tuntaskan pada 22 Januari 2026 itu bukanlah jalan setapak yang rata. Ia datang ke Mataram membawa oleh-oleh yang tak diinginkan siapa pun, yakni Autoimmune Lupus.
“Awalnya saya tidak ada niatan kuliah. Ada keterbatasan fisik yaitu sakit lupus. Tidak boleh capek, tidak boleh kena sinar matahari, bahkan tidak boleh berpikir terlalu keras,” kenang Fira.
Baca Juga: Memuliakan “Teman Yatim” di Masjid Jalan Cahaya, Membasuh Luka Duka dengan Ayat Suci
Lupus, yang sering dijuluki penyakit seribu wajah, memaksa Fira bergantung pada obat-obatan. Sebelum menjejakkan kaki di asrama Masjid Jalan Cahaya, ia harus menelan lima butir obat sekali minum, tiga kali sehari. Total 15 pil per hari menjadi makanan wajib agar sel-sel imunnya tidak menyerang organ tubuhnya sendiri. Kondisi ini sempat membuatnya skeptis terhadap masa depan, hingga ia memutuskan untuk memfokuskan sisa energinya hanya untuk Alquran.
“Saya berpikir, daripada kuliah malah memperparah sakit, lebih baik menghafal Quran. Siapa tahu ada keajaiban,” tuturnya.
Keajaiban itu tidak datang seketika, tetapi merayap perlahan melalui kedisiplinan dan lingkungan yang suportif. Di Pondok Quran Masjid Jalan Cahaya, Fira yang sebelumnya hanya bermodal hafalan Juz 30 yang setengah matang, mulai membangun hafalannya dari nol. Menariknya, seiring dengan bertambahnya setoran ayat setiap harinya, Fira perlahan-lahan mencoba melepaskan ketergantungan obatnya.
Hasilnya mencengangkan. Fira yang biasanya harus bolak-balik masuk rumah sakit, saat ini hanya perlu melakukan check-up setahun sekali. Bahkan, hasil tes medis terakhirnya menunjukkan kondisi yang bersih dari serangan penyakit tersebut. Sesuatu yang jika dicari di mesin pencari, sering disebut sebagai penyakit yang tak ada obat pastinya.
“Lupus itu tidak ada obatnya, hanya pereda saja. Tapi Alhamdulillah, semenjak di sini, mungkin karena lingkungannya, dukungan teman-teman, dan Alquran, tes terakhir saya sudah bersih,” ungkap Koordinator Santriwati Pondok Quran ini.
Fira mengakui ada masa-masa di mana rasa bosan dan keinginan untuk menyerah muncul, terutama saat memasuki pertengahan hafalan. Di sinilah metode Masjid Jalan Cahaya berperan. Mereka tidak hanya dicekoki hafalan, tapi juga diajarkan ilmu kehidupan, public speaking, hingga manajemen diri.
“Kami diajarkan mengenali diri sendiri dan menerima kekurangan. Itulah yang membuat kami tidak jenuh,”katanya.
Murojaah untuk menjaga hafalan tetap menjadi prioritas. Setiap hari Senin hingga Jumat adalah waktu setoran, sementara Sabtu digunakan untuk Tasmi’ atau mengulang hafalan satu pekan sekaligus dalam sekali duduk. Untuk menjaga kualitas hafalan (mutqin), setiap sudut asrama dilengkapi dengan pengeras suara yang terus melantunkan ayat suci, menemani setiap aktivitas santri mulai dari memasak di dapur hingga beristirahat.
“Semua orang bisa, tapi tidak semua bisa istiqomah," pungkasnya.
Editor : Kimda Farida