LombokPost - Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram mulai memasang ancang-ancang menyambut kebijakan pemerintah pusat terkait fleksibilitas kerja bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Menanggapi tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) dan tuntutan efisiensi kerja, opsi Work From Home (WFH) kini tengah dikaji oleh jajaran eksekutif di bawah Wali Kota Mataram Mohan Roliskana.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram Lalu Alwan Basri mengungkapkan, pihaknya saat ini sedang menunggu payung hukum resmi berupa Standar Operasional Prosedur (SOP) dan keputusan dari pemerintah pusat sebelum menerapkan kebijakan tersebut secara permanen di lingkup Pemkot Mataram.
“Ini baru kebijakan yang disampaikan Pak Wali kepada kami. Kita masih menunggu aturan dan keputusan pusat. Begitu sudah ada ketukan dari pusat, baru kita tindak lanjuti dengan kebijakan daerah,” kata Alwan.
Kebijakan bersepeda ini ditargetkan menyasar pejabat yang berdomisili dalam radius tertentu dari kantor.
“Kemungkinan 90 persen akan kita terapkan. Pejabat eselon II, III, dan IV diminta bersepeda dari rumah. Kami sedang menghitung radiusnya,“ tambahnya.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Selain menekan penggunaan kendaraan dinas yang memakan biaya BBM besar, penggunaan sepeda dianggap efektif mengurangi kemacetan di jalan-jalan protokol Kota Mataram yang kian padat.
“Tujuannya jelas. Pertama, efisiensi BBM. Kedua, kesehatan. Bayangkan pagi-pagi sudah bersepeda ke kantor, pulang juga begitu. Ini juga membantu mengurangi kemacetan kota,” imbuhnya.
Meski mewajibkan penggunaan sepeda, Alwan menyebut pengadaan sepeda tidak dibebankan pada APBD, melainkan menggunakan milik pribadi masing-masing pejabat. Terkait sanksi bagi pejabat yang membandel, Sekda menyebut hal itu akan diatur dalam regulasi turunan setelah SOP WFH resmi diterbitkan.
“Rata-rata pejabat kita sudah punya sepeda. Tinggal manajemen waktunya saja, mungkin harus berangkat lebih pagi. Kita akan lihat perhitungannya nanti, yang jelas tujuannya adalah efisiensi dan perubahan budaya kerja yang lebih sehat di Kota Mataram,” pungkasnya.
Editor : Jelo Sangaji