Ancaman puing antariksa kini telah menjadi persoalan global. Fragmen kecil di orbit dilaporkan dapat melaju hingga kecepatan 15 kilometer per detik, atau jauh melampaui kecepatan peluru di Bumi. Dengan lebih dari 25.000 objek besar yang terlacak serta ratusan juta fragmen kecil yang tidak terpantau, setiap benturan dapat membahayakan operasional stasiun luar angkasa dan satelit.
Dilansir dari Futurism, dua taikonaut, Zhang Lu dan Wu Fei, dilaporkan telah melaksanakan misi di luar stasiun (spacewalk) selama delapan jam untuk memasang panel pelindung antipuing pada bagian luar Tiangong. Selain pemasangan panel, keduanya juga melakukan inspeksi struktur dan perawatan teknis pada stasiun yang telah beroperasi sejak tahun 2022 tersebut.
Insiden Shenzhou-20
Urgensi pemasangan sistem pertahanan ini semakin menguat setelah insiden yang terjadi satu bulan lalu. Saat itu, serpihan puing antariksa merusak jendela kapsul berawak Shenzhou-20. Kerusakan tersebut menyebabkan wahana dinilai tidak aman untuk membawa awak kembali ke Bumi, sehingga tiga astronot terpaksa bertahan di Tiangong selama sembilan hari lebih lama dari jadwal semula sembari menunggu solusi kepulangan alternatif.
”Kerusakan pada jendela wahana Shenzou-20 menunjukkan bahwa fragmen kecil pdapat menimbulkan risiko serius bagi keselamatan misi berawak,” kata China Manned Space Engineering Office (CMSEO) dikutip dari Reuters.
Inovasi Perlindungan Orbit
Selama beberapa dekade terakhir, badan antariksa dunia umumnya mengandalkan perisai Whipple sebagai standar perlindungan terhadap puing. Namun, teknologi tersebut dikenal memiliki bobot yang berat dan berisiko menghasilkan puing sekunder saat terjadi benturan.
Pemasangan panel pelindung baru pada Tiangong dipandang sebagai upaya Tiongkok untuk menerapkan pendekatan yang lebih adaptif dan efisien terhadap ancaman modern di orbit Bumi.
Editor : Redaksi Lombok Post