Waspada Cuaca Ekstrem di NTB 22-27 Februari 2026: BMKG Ingatkan Potensi Banjir dan Gelombang Tinggi
Kimda Farida• Selasa, 24 Februari 2026 | 13:37 WIB
Libur Nataru 2025/2026, BMKG minta warga NTB dan Lombok waspada hujan lebat dan angin kencang akibat dinamika cuaca ekstrem.
LombokPost--Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) merilis peringatan dini terkait potensi peningkatan cuaca ekstrem yang akan melanda wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada periode 22 hingga 27 Februari 2026.
Berdasarkan analisis dinamika atmosfer terkini, terdapat gangguan atmosfer signifikan yang memicu pertumbuhan awan konvektif secara masif di wilayah ini.
Beberapa faktor utama yang menyebabkan peningkatan potensi cuaca ekstrem antara lain aktifnya gelombang MJO (Madden-Julian Oscillation), Kelvin, dan Low Frequency di wilayah NTB.
Selain itu, terpantau adanya pertemuan serta perlambatan kecepatan angin yang disertai kelembapan udara basah di berbagai lapisan ketinggian.
Kondisi labilitas atmosfer yang kuat ini sangat mendukung proses pembentukan awan Cumulonimbus yang dapat menghasilkan hujan sedang hingga sangat lebat, petir, dan angin kencang.
Wilayah Terdampak di NTB
Potensi hujan lebat dan cuaca ekstrem diprediksi akan merata di seluruh kabupaten dan kota di NTB selama periode tersebut.
Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan meliputi:
• Pulau Lombok: Kota Mataram, Kab. Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur
• Pulau Sumbawa: Kab. Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, Bima, dan Kota Bima.
Peringatan Gelombang Tinggi
Selain cuaca di darat, BMKG juga memberikan peringatan serius bagi sektor kelautan.
Selama periode 22-24 Februari 2026, tinggi gelombang di beberapa perairan mencapai kategori Sangat Tinggi (2.5 – 4.0 meter), khususnya di Selat Lombok bagian Selatan, Selat Alas bagian Selatan, dan Samudera Hindia Selatan NTB.
Sementara itu, wilayah Selat Lombok bagian Utara dan Selat Sape diprediksi mengalami gelombang setinggi 1.25 – 2.5 meter.
Rekomendasi dan Imbauan Keamanan
Masyarakat diimbau untuk tetap siaga menghadapi dampak bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, hingga pohon tumbang.
BMKG melalui Kepala Stasiun Meteorologi ZAM, Satria Topan Primadi, memberikan beberapa rekomendasi teknis:
1. Memastikan kapasitas drainase dan infrastruktur air siap menampung peningkatan curah hujan.
2. Melakukan pemangkasan dahan pohon yang rapuh dan memperkuat tiang-tiang penyangga agar tidak roboh diterjang angin.
3. Menjauh dari lokasi rawan bencana dengan radius aman saat hujan lebat terjadi.
4. Terus memantau informasi resmi melalui kanal BMKG di Instagram @infobmkgntb atau website resmi.
Sektor penerbangan juga diminta memperhatikan informasi meteorologi secara detail, terutama pada saat pesawat melakukan take off dan landing demi keselamatan perjalanan udara.