LombokPost - Selat Hormuz kini berubah menjadi salah satu titik paling berbahaya dalam konflik global, di mana bahkan Amerika Serikat—dengan kekuatan militer terbesar di dunia—belum mampu sepenuhnya mengamankan jalur tersebut.
Data terbaru menunjukkan lalu lintas kapal di kawasan ini sempat anjlok drastis hingga mendekati nol, dengan lebih dari 150 kapal tanker dan kargo memilih menahan posisi di luar selat akibat meningkatnya risiko serangan.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur sempit dengan lebar sekitar 40 kilometer, namun jalur pelayaran efektif hanya sekitar 3 kilometer di masing-masing arah. Kondisi ini membuat kapal besar, termasuk armada militer, berada dalam posisi rentan karena ruang manuver yang terbatas.
Iran memanfaatkan kondisi tersebut dengan strategi berlapis yang dikenal sebagai anti-access/area denial (A2/AD), yaitu taktik untuk mencegah musuh masuk tanpa harus memenangkan pertempuran terbuka.
Strategi ini mencakup:
sekitar 5.000–6.000 ranjau laut yang dapat menutup jalur pelayaran;
kapal cepat bersenjata yang menyerang secara berkelompok (swarm);
rudal pantai-ke-laut dari garis pesisir;
serta drone pengintai dan serang untuk memantau dan mengganggu pergerakan.
Di sisi lain, Amerika Serikat telah merespons dengan kekuatan besar. Lebih dari 90 target militer Iran dilaporkan telah diserang, termasuk fasilitas rudal, depot ranjau, dan armada kapal cepat.
Washington juga mengerahkan ribuan pasukan dari kawasan Indo-Pasifik, termasuk Marinir dari Jepang serta kapal amfibi seperti USS Tripoli, sebagai bagian dari upaya membuka kembali jalur strategis tersebut.
Namun hingga kini, Selat Hormuz belum sepenuhnya berhasil diamankan.
Di tengah tekanan tersebut, Iran justru menunjukkan peningkatan kemampuan militernya. Laporan terbaru menyebutkan bahwa rudal Iran mampu menjangkau lebih dari 4.000 kilometer, termasuk ke pangkalan militer Barat di Samudra Hindia—melampaui klaim jangkauan sebelumnya yang berada di kisaran 2.000 kilometer.
Kombinasi antara geografi sempit, jebakan ranjau, serangan cepat, dan peningkatan jangkauan rudal membuat Selat Hormuz menjadi lebih dari sekadar jalur laut—melainkan sebuah “perangkap strategis” yang sulit ditembus.
Dampaknya tidak hanya militer. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur ini, dan gangguan yang terjadi telah mendorong harga minyak global melonjak hingga di atas 120 dolar per barel, memicu tekanan ekonomi di berbagai negara.
Situasi ini menempatkan Amerika Serikat pada dilema besar: menyerang secara penuh berisiko tinggi terhadap armada dan stabilitas global, sementara menahan diri berarti membiarkan jalur energi dunia tetap berada di bawah tekanan.
Hingga saat ini, belum ada tanda bahwa Selat Hormuz dapat sepenuhnya dibuka dalam waktu dekat.