Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

REVOLUSI EARTH HOUR! Dari Gerakan Matikan Lampu Menuju "Jam Terbesar untuk Bumi", Mengapa 60 Menit Anda Sangat Berarti?

Nurul Hidayati • Jumat, 27 Maret 2026 | 17:00 WIB

Sejarah Earth Hour: Dari sekadar matikan lampu kini jadi
Sejarah Earth Hour: Dari sekadar matikan lampu kini jadi

LombokPost - Apa yang dimulai sebagai aksi simbolis sederhana di Sydney pada tahun 2007 kini telah bertransformasi menjadi gerakan lingkungan terbesar di dunia.

Lebih dari 15 tahun berlalu, Earth Hour tidak lagi sekadar tentang mematikan lampu selama satu jam, melainkan sebuah misi penyelamatan planet yang berada di titik kritis.

Menjelang pelaksanaan Earth Hour 2026 besok malam (28/3), penting bagi kita di Nusa Tenggara Barat untuk memahami mengapa partisipasi tahun ini jauh lebih krusial dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Sejarah: Simbol Dukungan yang Mendunia

Sejak awal kemunculannya, Earth Hour dikenal dengan momen "lampu mati". Individu dari seluruh dunia mematikan lampu mereka untuk menunjukkan dukungan simbolis bagi planet ini dan meningkatkan kesadaran akan masalah lingkungan.

Kini, gerakan ini telah menjangkau lebih dari 190 negara dan wilayah, menciptakan gelombang persatuan global yang langka.

Titik Kritis: Mengapa Sekarang?

Dunia saat ini menghadapi krisis ganda: perubahan iklim dan hilangnya alam. Data terbaru dari WWF’s Living Planet Report 2024 mengungkapkan fakta yang mengerikan: populasi spesies satwa liar telah merosot hingga 73 persen sejak tahun 1970.

Hutan Amazon, terumbu karang (termasuk yang ada di perairan Gili kita), dan lapisan es kutub sedang mendekati titik kritis yang bisa memicu kerusakan permanen. Kita diprediksi akan menembus ambang batas kenaikan suhu global 1,5°C pada tahun 2030 jika tidak ada tindakan drastis dari sekarang.

Misi Baru: "The Biggest Hour for Earth"

Sejak 2023, Earth Hour telah menyuntikkan misi baru. Fokusnya bukan lagi hanya "mematikan", tapi "memberikan".

"Berikan satu jam untuk Bumi dengan melakukan sesuatu—apa pun itu—yang positif bagi planet kita."

Konsep ini mengajak masyarakat Mataram dan sekitarnya untuk mengisi 60 menit kegelapan tersebut dengan aktivitas yang mereka cintai namun berdampak baik, seperti:

Reconnecting: Berinteraksi kembali dengan alam sekitar.

Restoring: Melakukan aksi nyata seperti menanam pohon atau membersihkan sampah plastik.

Learning: Mempelajari lebih dalam tentang krisis iklim.

Inspiring: Menginspirasi orang lain untuk ikut peduli.

Satu Jam yang Mengubah Dunia

Mungkin terdengar mustahil satu jam bisa mengubah dunia. Namun, keajaiban terjadi saat jutaan orang di Asia, Afrika, Amerika, hingga Eropa melakukannya bersama-sama. 60 menit tersebut menjadi akumulasi jutaan jam aksi nyata yang memberikan tekanan positif bagi pemerintah dan bisnis untuk segera mengambil langkah berkelanjutan.

Bagi kita di NTB, yang sangat bergantung pada kelestarian alam untuk sektor pariwisata dan pertanian, Earth Hour adalah pengingat bahwa kita belum melewati titik tanpa harapan. Kita masih bisa berbuat sesuatu sebelum terlambat.

Mari bersiap. Besok malam, pukul 20.30 WITA, mari kita berikan "Jam Terbesar" kita untuk rumah kita satu-satunya: Bumi.

Editor : Kimda Farida
#planet #matikan lampu #kesadaran #lingkungan #global #earth hour