Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BENTENG DOMESTIK! Hadapi Gejolak Global, Indonesia Percepat Swasembada Energi Lewat Sawit dan "Energi Singkong"

N
Penulis: Nurul Hidayati❯

Dua orang pekerja sedang bongkar sawit.
Dua orang pekerja sedang bongkar sawit.


Advertisement

LombokPost - Memanasnya suhu geopolitik global, terutama konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, memicu kekhawatiran akan stabilitas rantai pasok energi dunia.

Namun, Indonesia memilih langkah berani dengan memperkuat fondasi domestik melalui percepatan agenda swasembada pangan dan energi berbasis sumber daya nasional.

Minyak sawit dan singkong kini diproyeksikan menjadi "peluru utama" Indonesia dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor yang kian tidak menentu akibat perang.

Advertisement

Baca Juga: Superman 2025 Bikin Heboh! Bantu Negara Kecil, Dituduh Langgar Geopolitik Internasional

Sawit Nasional Tembus Rekor Produksi

Ketua Umum Gabungan Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, mengungkapkan bahwa produksi Crude Palm Oil (CPO) Indonesia pada 2025 mencatatkan kenaikan signifikan mencapai 51,6 juta ton, naik 7,5 persen dibanding tahun sebelumnya.

Meski konflik global memicu lonjakan biaya logistik dan asuransi pengiriman hingga 50 persen, ekspor sawit Indonesia ke negara tujuan utama seperti China dan India terpantau tetap berjalan kokoh.

Advertisement

"Dengan kondisi global seperti ini, kita bersyukur ekspor sawit masih jalan meski terjadi kenaikan biaya yang luar biasa," ujar Eddy, Rabu (11/3).

Di dalam negeri, konsumsi sawit untuk biodiesel juga meningkat hingga 12,7 juta ton seiring implementasi program B40.

Singkong: Bahan Baku Bioetanol Masa Depan

Selain sawit, pemerintah mulai serius melirik singkong sebagai penopang ketahanan energi.

Ketua Umum Masyarakat Singkong Indonesia, Arifin Lambaga, menyebut komoditas ini sangat potensial untuk dikonversi menjadi bioetanol guna menekan risiko kekurangan energi akibat ketegangan di Timur Tengah.

"Pemerintah menginginkan semua potensi energi dioptimalkan. Untuk satu liter bioetanol, dibutuhkan sekitar 5 hingga 7 kilogram singkong segar," jelas Arifin.

Saat ini, produksi singkong nasional berada di angka 14 juta ton per tahun. Dengan kebutuhan bioetanol nasional mencapai 1,4 juta kiloliter, Indonesia memerlukan setidaknya 10 juta ton singkong segar untuk memenuhi bauran energi tersebut.

Strategi Jangka Panjang Hadapi Ketidakpastian

Kementerian Pertanian kini tengah meminta para pelaku industri dan petani untuk menyiapkan perencanaan produksi singkong secara masif. Langkah swasembada ini dinilai sebagai bantalan ekonomi yang kokoh bagi Indonesia.

Dengan basis produksi sawit yang kuat dan optimalisasi singkong, Indonesia memiliki posisi strategis untuk tetap tangguh. Kekuatan sumber daya domestik menjadi benteng utama menjaga stabilitas nasional ketika rantai pasok pangan dan energi dunia terganggu oleh kepentingan geopolitik.

Upaya memperkuat swasembada ini bukan sekadar kebijakan jangka pendek, melainkan langkah kedaulatan untuk memastikan ekonomi Indonesia tetap berputar meski tekanan global semakin kompleks.

Advertisement
Editor : Pujo Nugroho
Sumber : InfoPublik
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kisah Veda Ega Pratama, Nyali "Ngeyel" yang Bikin Indonesia Bangga

Kisah Veda Ega Pratama, Nyali "Ngeyel" yang Bikin Indonesia Bangga

Dari lintasan motocross Gunungkidul hingga podium Moto3 Sepang 2026, Veda membuktikan kegigihan mampu membawanya bersaing ke internasional

Voli Pantai Dicoret dari SEA Games 2027 Malaysia, Lumbung Medali Emas Indonesia Hilang

Voli Pantai Dicoret dari SEA Games 2027 Malaysia, Lumbung Medali Emas Indonesia Hilang

-Kabar kurang sedap datang dari persiapan SEA Games 2027 di Malaysia. Cabang olahraga voli pantai dipastikan tidak masuk dalam daftar pertan

Ekspor Gas Dipangkas, Industri Digenjot

Ekspor Gas Dipangkas, Industri Digenjot

Indonesia kurangi ekspor gas ke Singapura 31 BBTUD untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik dan industri serta mendorong manufaktur.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer