
LombokPost - Bel berbunyi bukan untuk memulai pelajaran, melainkan menjadi penanda berakhirnya hari pertama sekolah lebih cepat dari yang direncanakan. Di tengah semangat mengenakan seragam baru dan berkenalan dengan teman sekelas, ratusan murid SDN Srengseng Sawah 15, Jakarta Selatan, justru harus pulang dengan iring-iringan polisi, anjing pelacak, dan tim penjinak bom. Masa pengenalan yang semestinya dipenuhi tawa berubah menjadi hari penuh kecemasan.
Suasana ceria menyelimuti halaman SDN Srengseng Sawah 15, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Senin pagi (13/7). Murid-murid baru tampak antusias mengikuti upacara pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Sebagian masih menggenggam tangan orang tua, sebagian lain sibuk memperhatikan guru yang memperkenalkan lingkungan sekolah.
Namun, kegembiraan itu tak berlangsung lama. Di tengah jalannya upacara, seorang guru menerima pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal. Isinya mengagetkan. Pengirim mengancam akan meledakkan sekolah dan mengaku telah menempatkan bahan peledak di 11 titik.
Baca Juga: Ratusan Murid Ikuti MPLS SRD 3 Lotim
Pihak sekolah memilih tidak mengambil risiko.
Tanpa menimbulkan kepanikan, para guru mulai mengatur agar seluruh siswa dipulangkan lebih awal. Guru-guru berusaha menjaga suasana tetap tenang agar anak-anak tidak mengetahui ancaman yang sedang dihadapi. Tak lama kemudian, kawasan sekolah berubah drastis.
Tim Gegana Brimob Polda Metro Jaya datang disusul personel Densus 88, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), serta unit K-9 dengan anjing pelacak. Garis polisi dipasang mengelilingi sekolah. Jalan menuju lokasi ditutup. Aktivitas belajar pun berhenti total.
Selama hampir empat jam, petugas menyisir setiap sudut sekolah, mulai ruang kelas hingga area terbuka. Hasilnya, tidak ditemukan benda mencurigakan ataupun bahan peledak.
Kapolsek Jagakarsa Kompol Nurma Dewi mengatakan penyidik telah mengantongi identitas terduga pelaku. Polisi kini memburu pengirim pesan sekaligus mendalami motif di balik ancaman tersebut.
Guru kelas V, Subekhi, mengungkapkan bahwa pesan ancaman diterima saat upacara masih berlangsung. Setelah mendapat arahan dari kepolisian, seluruh murid dipulangkan demi keselamatan.
"Anak-anak tetap kami kumpulkan di lapangan sampai ada keputusan dari polisi. Setelah itu mereka dipulangkan," ujarnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




