Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ternyata Yang Pertama Menemukan Juliana Marins Sudah Tak Bernyawa Bukan Agam Rinjani, Tapi Sosok Ini Namun Tak Terekspos

Rosmayanthi • Minggu, 29 Juni 2025 | 19:28 WIB

Ternyata yang pertama kali berupaya menyelamatkan dan menemukan Juliana Marins sudah tak bernyawa bukan Agam Rinjani, tapi sosok ini namun tak terekspos.
Ternyata yang pertama kali berupaya menyelamatkan dan menemukan Juliana Marins sudah tak bernyawa bukan Agam Rinjani, tapi sosok ini namun tak terekspos.
LombokPost - Ternyata ada cerita dibalik layar saat pencarian dan evakuasi pendaki wanita asal Brasil Juliana Marins yang jatuh di jurang Gunung Rinjani Lombok Nusa Tenggara Barat.

Cerita ini bisa membuat netizen merasa berdosa karena hanya menganggap Agam Rinjani satu-satunya Pahlawan yang rela mempertaruhkan nyawa saat mengevakuasi jenazah Juliana Marins.

Pasalnya, Agam Rinjani tiba di Rinjani empat hari setelah Juliana Marins jatuh. Sementara di hari pertama bule Brasil itu jatuh, sudah ada Tim SAR Lombol Timur yang datang ke lokasi dan langsung melakukan pencarian di kedalaman 400 meter.

Cerita ini bukan datang dari orang lain, tapi dari Agam Rinjani yang terungkan saat dia melakukan podcast dengan Channel YouTube YIM Official.

Agam Rinjani mengaku dirinya tengah berada di Jakarta saat kejadian Juliana Marins jatuh. Karena ada kegiatan yang mendesak dia tidak bisa balik ke Lombok hingga hari ke tiga Juliana jatuh.

"Di hari pertama sudah ada kawan dari Tim SAR Lombok Timur yang langsung datang menolong, tapi tidak terekspos," ungkap Agam Rinjani.

Menurut Agam, Tim SAR Lombok Timur ini tiba di lokasi jatuhnya Juliana sore hari dan langsung persiapan turun ke jurang.

"Mereka langsung turun ke jurang malam itu, harusnya ini tidak boleh karena bahaya sekali, gak safety dan dilarang, apapun bisa terjadi di malam hari dan bisa membahayakan nyawa tim penyelamat," ungkap Agam.

Terlebih lagi kondisi jurang Rinjani yang berupa tumpukan pecahan batu yang tak menempel, bisa longsor setiap detik.

"Untung saja tidak hujan saat turun ke jurang, bisa tewas semua tim penolong itu," tambah Agam lagi.

Tapi karena niat kuat Tim SAR Lombok Timur menyelamatkan nyawa Juliana Marins, mereka mengabaikan aturan dan mengesampingkan resiko nyawa melayang.

Yang mengejutkan dari cerita Agam, satu orang pendaki dari Tim Penyelamat Lombok Timur itu berhasil turun hingga kedalaman 400 meter malam itu, tapi tidak menemukan Juliana Marins.

"Satu orang Tim Sar Lombok Timur, Mas Padli adalah orang pertama yang berhasil turun ke jurang dengan kedalaman 400 meter, tapi tidak menemukan Juliana dititik pertama dia terlihat melalui drone, mungkin Juliana bergeser sehingga lebih jatuh merosot lagi," cerita Agam.

Karena malam hari dan berkabut, jarak pandang Samsul Padli (nama tim SAR Lotim) terbatas dia pun memutuskan menginap di tebing sampai matahari terbit.

"Dia menginap sendiri ditebing, kan dingin sekali disana, dia sempat menyuruh kawan-kawannya di atas untuk istirahat dan meninggalkannya sendiri, tapi kawan-kawan di atas tidak mau dan tetap menjaga tali pengaman yang menahan tubuh Mas Fadli dari atas. Ini ekstrem sekali, sesuatu bisa terjadi disana, dia bisa terkena hipotermia karena dingin sekali di bawah," tambah Agam.

Jadi setelah pagi hari, Samsul Padli kembali mencari lokasi Juliana Marins. Dan Samsul Padli inilah yang pertama menemukan Juliana Marins namun dalam keadaan meninggal dunia. Bahkan Samsul seorang diri sempat tidur dengan jasad Juliana Marins karena tim penyelamat yang lain tidak bisa turun khawatir terjadi longsor.

"Jadi yang menemukan pertama kali Juliana ya Mas Samsul, dia bilang sudah MD Bang, maksudnya Meninggal Dunia," cerita Agam.

Agam dan timnya baru tiba di lokasi dan bergabung untuk mengevakuasi jasad Juliana di hari ke tiga Juliana jatuh.

Saat itu dia mencari pesawat subuh yang ke Lombok, tiba di Bandara BIL langsung menuju Rinjani, dan tiba sore hari di pinggir jurang Juliana jatuh.

Tiba dilokasi Agam dan timnya langsung bergabung dengan Samsul Padli dan timnya, briefing sebentar lalu turun bersama-sama. Esok harinya baru mereka berhasil mengangkap jasad Juliana seperti dalam video yang beredar.

Agam Rinjani dengan jujur mengaku, sebelum dirinya dan tim tiba dilokasi jatuhnya Juliana Marins, Tim SAR Lombok Timur yang lebih dahulu berjuang menyelamatkan Juliana selama dua hari tanpa tidur. Bahkan mereka mempertaruhkan nyawa tanpa memperhatikan safety (keselamatan) bagi dirinya sendiri.

Medan jurang Rinjani lokasi jatuhnya Juliana Marins penuh kerikil batu keras yang mudah longsor.
Medan jurang Rinjani lokasi jatuhnya Juliana Marins penuh kerikil batu keras yang mudah longsor.

"Tapi mereka-mereka ini tak terekspost, karena mereka turun tidak membawa camera, dipikiran mereka hanya niat menyelamatkan nyawa Juliana, dan ini menyangkut nama negara jika tidak dievakuasi," ungkap Agam.

Lantas siapakah Samsul Padli, Pahlawan dibalik layar penyelamat Juliana Marins?

Samsul Padli, anggota tim Search and Rescue (SAR) Unit Lombok Timur Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). 

Kepada LombokPost, Samsul Padli sempat menceritakan pengalamannya bermalam dengan flying camp seorang diri, saat mencari lokasi Juliana maupun saat tidur menemani jenazahnya. 

Samsul turun ke jurang di lokasi jatuhnya Juliana pada Selasa (24/6/2025) malam. 

Ia turun ke jurang sendiri kala itu, sementara tiga rekannya berada di tempat lebih di atas. Mereka kemudian melakukan flying camp di jurang sedalam ratusan meter itu.

"Karena waktu turun itu malam hari, kalau naik kan butuh waktu lagi," kata Samsul Padli.

Padli tidak bisa tidur nyenyak saat menemani jenazah Juliana dengan flying camp. 

"Rasanya itu ngeri-ngeri sedap," akunya.

Padli menggambarkan lokasi jatuhnya Juliana, kata Juliana jatuh di jurang yang curam dengan medan yang berpasir yang dikelilingi bebatuan. Sehingga sangat berat dan memakan waktu cukup lama dalam proses evakuasi.

"Ada bebatuan lepas juga di sana, makanya kalau ada batu yang menggelinding dari atas langsung diberi tahu saya oleh teman yang berada di atas," cerita Samsul Padli.

Samsul Padli Anggota Tim SAR Lombok Timur yang turun menyelamatkan Juliana Marins pertama kali dan tidur dengan jenazahnya di tebing seorang diri.
Samsul Padli Anggota Tim SAR Lombok Timur yang turun menyelamatkan Juliana Marins pertama kali dan tidur dengan jenazahnya di tebing seorang diri.

Seusai bermalam di ketinggian dengan flying camp, Padli dan rekan-rekannya kemudian mengevakuasi jenazah Juliana keesokan harinya, Rabu (25/6/2025) pagi. 

Evakuasi dimulai sejak pukul 08.00 Wita.

"Kami angkat dengan hati-hati, lalu memasukkan korban ke kantong jenazah. Setelah itu, sekitar pukul 08.00 jenazah korban mulai diangkat," ungkap Samsul Padli. 

Jenazah baru mencapai titik posisi atas pada pukul 15.00 Wita, dan dibawah turun dengan berjalan mengunakan tandu.

Editor : Siti Aeny Maryam
#rinjani #jurang #turun #SAR #Agam #Juliana