Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan proyek DME sudah dibahas dalam Rapat Terbatas (Ratas) dengan Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (6/11) lalu.
Bahlil mengungkapkan, oroyek gasifikasi batu bara menjadi DME sebagai pengganti LPG menjadi prioritas pemerintah yang akan segeraa digarap.
Peluang DME menggantikan LPG sangat didukung oleh pemerintah sebagai solusi strategis untuk kemandirian energi.
Realisasi penuh penggantian in tengah dalam proses pengembangan dan konstruksi pabrik yang ditargetkan mulai berjalan secara bertahap pada tahun 2026 dan produksi massal pada 2027.
Penggunaan DME kemungkinan akan berjalan secara paralel atau bertahap menggantikan LPG di sektor tertentu, bukan penggantian secara instan di seluruh negeri.
Seperti yang diungkapkan Bahlil, dalam rapatnya dengan Prabowo, Presiden menegaskan pentingnya mempercepat pembangunan industri energi dalam negeri. Hal ini lantaran semakin banyaknya kebutuhan LPG di tahun mendatang.
"Kita tahu bahwa tadi kita baru habis resmikan Cilegon, itu kita membutuhkan LPG kurang lebih sekitar 1,2 juta ton per tahun. Maka konsumsi kita nanti ke depan, di 2026, itu sudah mencapai hampir 10 juta ton LPG. Tidak bisa kita lama, kita harus segera membangun industri-industri dalam negeri," ucap Bahlil dalam keterangan tertulisnya Sabtu (8/11).
Mengutip situs KementerianESDM, karakteristik DME memiliki kesamaan baik sifat kimia maupun fisika dengan LPG. Itu sebabnya DME dapat menggunakan infrastruktur LPG yang ada sekarang, seperti tabung, storage dan handling eksisting.
Kelebihan lain adalah DME bisa diproduksi dari berbagai sumber energi, termasuk bahan yang dapat diperbarui. Antara lain biomassa, limbah dan Coal Bed Methane (CBM). Namun saat ini, batu bara kalori rendah dinilai sebagai bahan baku yang paling ideal untuk pengembangan DME.
Pemilihan DME untuk subtitusi sumber energi juga mempertimbangkan dampak lingkungan. DME dinilai mudah terurai di udara sehingga tidak merusak ozon dan meminimalisir gas rumah kaca hingga 20%.
LPG per tahun menghasilkan emisi 930 kg CO2, nanti dengan DME hitungannya akan berkurang menjadi 745 kg CO2. Ini nilai-nilai yang sangat baik sejalan dengan upaya-upaya global menekan emisi gas rumah kaca.
Selain itu, kualitas nyala api yang dihasilkan DME lebih biru dan stabil, tidak menghasilkan partikulat matter (pm) dan NOx, serta tidak mengandung sulfur.
DME merupakan senyawa eter paling sederhana mengandung oksigen dengan rumus kimia CH3OCH3 yang berwujud gas sehingga proses pembakarannya berlangsung lebih cepat dibandingkan LPG.
Editor : Siti Aeny Maryam