LombokPost - Meroketnya harga emas berdampak pada penetapan acuan pembayaran zakat penghasilan.
Baznas bersama Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia merumuskan acuan zakat penghasilan yang merujuk pada harga emas 14 karat, bukan lagi menyesuaikan harga emas 24 karat.
Regulasi acuan pembayaran zakat penghasilan ini sedang dikebut dan diharapkan selesai sebelum bulan Ramadan.
Zakat penghasilan terkait dengan nisab atau takaran yang dikaitkan dengan emas. Aturan yang berlaku adalah nisab zakat penghasilan setara dengan 85 gram emas per tahun.
Jika penghasilan sudah mencapai harga emas 85 gram, maka wajib membayar zakat.
Besaran zakat penghasilan sebesar 2,5 persen dari penghasilan yang diterima tiap tahun.
Ketua Baznas Noor Achmad mengatakan, acuan harga emas untuk patokan zakat penghasilan direvisi.
“Tidak lagi menyesuaikan harga emas 24 karat, tetapi harga emas 14 karat,” katanya di sela peluncuran program Zakat Menguatkan Indonesia di Jakarta, Senin (2/2) sore.
Noor menuturkan, harga emas 24 karat saat ini sudah sangat tinggi.
Harga pasaran di toko emas sudah sekitar Rp 3 juta per gram.
Jika nisab zakat penghasilan merujuk pada harga emas 24 karat, seseorang harus berpenghasilan Rp 15 juta per bulan terlebih dahulu.
“Jika tetap menggunakan acuan harga emas 24 karat, ada potensi penurunan penghimpunan zakat penghasilan sekitar 62 persen,” katanya. (wan/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida