Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

PT GNE Pasang Target Pendapatan Rp 16 Miliar di 2026

Y
Penulis: Yuyun Kutari❯
SUMBER PAD: Para pekerja PT GNE, terlihat sibuk membuat sekaligus mengangkut beton, menunjukkan aktivitas kerja di lapangan, Rabu (7/1).
SUMBER PAD: Para pekerja PT GNE, terlihat sibuk membuat sekaligus mengangkut beton, menunjukkan aktivitas kerja di lapangan, Rabu (7/1).

LombokPost - Kinerja PT Gerbang NTB Emas (GNE) pada 2025 mengalami koreksi, setelah realisasi proyek pemerintah berjalan lebih lambat dari rencana. 


Advertisement

“Kalau di 2024, pendapatan kami dari sektor beton tercatat mencapai Rp 14 miliar, tetapi di 2025 berkurang menjadi sekitar Rp 12,5 miliar,” jelas Plt Dirut PT GNE Anas Amrullah, Kamis (8/1).  

Ini karena proyek-proyek pemerintah, baru mulai berjalan pada Agustus 2025, sehingga berdampak langsung terhadap pendapatan perusahaan. Di sisi lain, kapasitas produksi PT GNE juga masih terbatas, sementara permintaan pasar cukup tinggi.

Berkaca dari kondisi tersebut, PT GNE menyiapkan strategi. Salah satu langkah yang ditempuh, dengan menyesuaikan komposisi pasar. 

Advertisement

Diakuinya, selama ini, sekitar 70 persen pendapatan PT GNE masih bergantung pada APBD, 20 persen dari APBN, dan hanya 10 persen dari sektor swasta.

Ke depan, kata Anas, porsi sektor swasta akan ditingkatkan menjadi 30 persen, sementara kontribusi pemerintah daerah (pemda) tetap dijaga di angka 70 persen, dengan APBN sebagai pelengkap.

“Bukan sekadar geser pasar, ini memang kewajiban. Kalau kita mengandalkan proyek pemerintah, kita baru bisa running setelah proyeknya turun. Kalau swasta, kapan saja bisa jalan,” tegasnya. 

Advertisement

Kontribusi sektor swasta, saat ini didominasi oleh pembangunan perumahan, dengan produk utama berupa material block, seperti paving block dan kanstin. 

Selain itu, PT GNE juga berencana menambah lini usaha baru, namun tetap berada di lingkup penyediaan material konstruksi. “Sekarang kita fokus ke material block, paving block. Ke depan kita harapkan bisa masuk ke Galian C, lalu ke bata interlock untuk dinding,” katanya.

Saat ini, PT GNE masih melayani kebutuhan regional NTB, dengan jangkauan distribusi hingga Bima. Produk perusahaan juga telah digunakan di sejumlah kawasan strategis, termasuk kawasan wisata.

“Kita suplai sampai Bima. Di Gili Trawangan, paving block yang digunakan itu produksi GNE,” jelasnya. 

Strategi tersebut dilakukan agar perusahaan berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dari catatan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) NTB, PT GNE belum menyetorkan alias nol dividen yang disetorkan ke daerah. 

Anas menjelaskan, memang pada 2025 belum ada pembagian dividen karena laporan keuangan masih menunggu pengesahan. Sementara pada 2024, PT GNE mencatatkan kerugian sehingga tidak memungkinkan pembagian dividen.

“Kalau rugi, tentu tidak bisa bagi dividen. Insyaallah setelah laporan keuangan 2025 disahkan, baru ada pembagian di 2026 ini,” ujarnya.

Berikutnya, strategis tersebut diharapkan bisa peningkatan pendapatan perusahaan tahun ini, dengan target Rp 16 miliar. Angka tersebut masih merupakan pendapatan kotor perusahaan. 

Setelah dikurangi biaya operasional dan harga pokok produksi, laba bersih akan dibagikan sesuai ketentuan yang berlaku. Menurutnya, target sebesar itu di 2026 itu realistis. 

“Kami sudah hitung berdasarkan kapasitas produksi kita yang mencapai 600 meter persegi. Jika itu dimaksimalkan, target tersebut sangat mungkin tercapai. Sekarang tinggal bagaimana strategi marketingnya di lapangan,” tandasnya. 

Sebelumnya, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan arah bisnis PT GNE harus berkonsentrasi pada satu lini usaha utama, yaitu penyediaan material konstruksi. 

“Nggak mungkin sebuah bisnis berkembang kalau terlalu banyak lini-lini bisnisnya, jadi harus fokus ke satu lini bisnis itu,” jelasnya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Perda PDRD Berlaku, Pemprov NTB Bidik Tambahan Pendapatan Rp 1 Triliun

Perda PDRD Berlaku, Pemprov NTB Bidik Tambahan Pendapatan Rp 1 Triliun

Pemprov NTB mengejar Rp1 triliun pendapatan hingga akhir 2026 melalui optimalisasi pajak daerah, retribusi, BLUD, aset pariwisata, dan PKB.

Realisasi Baru Rp 7,8 Miliar, Pemprov NTB Kejar Target Rp 60 Miliar Pemanfaatan Aset Gili Trawangan

Realisasi Baru Rp 7,8 Miliar, Pemprov NTB Kejar Target Rp 60 Miliar Pemanfaatan Aset Gili Trawangan

Realisasi aset Gili Trawangan baru Rp 7,8 miliar, Pemprov NTB tetap mengejar target Rp 60 miliar melalui optimalisasi aset daerah.

Misban Ratmaji Sebut PAD Mataram Bisa Tembus Rp 1 Triliun

Misban Ratmaji Sebut PAD Mataram Bisa Tembus Rp 1 Triliun

DPRD Kota Mataram mendorong pemerintah kota lebih agresif memburu sumber-sumber penerimaan yang selama ini belum tergarap maksimal.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer