Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sekolah dan SPPG Sodorkan Jalan Tengah untuk Refocusing MBG

Y
Penulis: Yuyun Kutari❯
PERHATIKAN KEBERSIHAN: Petugas SPPG bersiap mendistribusikan santapan MBG kepada penerima manfaat, beberapa waktu lalu. (IVAN/LOMBOK POST)
PERHATIKAN KEBERSIHAN: Petugas SPPG bersiap mendistribusikan santapan MBG kepada penerima manfaat, beberapa waktu lalu. (IVAN/LOMBOK POST)

Advertisement

LombokPost-Rencana refocusing Program Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk opsi pembatasan penerima manfaat bagi siswa SMA/sederajat, memunculkan beragam masukan dari pelaksana di lapangan.

Pihak sekolah maupun pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sama-sama berharap penyesuaian kebijakan dilakukan secara hati-hati, tepat sasaran, serta tidak menimbulkan dampak negatif terhadap pelaksanaan program.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 5 Mataram, Muhammad Sofyan, menilai perubahan skema penyaluran bantuan menjadi salah satu solusi yang lebih realistis dibandingkan penghentian program bagi jenjang SMA.

Menurutnya, bantuan akan lebih efektif apabila disalurkan langsung kepada orang tua siswa, khususnya bagi peserta didik dari keluarga kurang mampu.

"Menurut saya pola distribusinya yang diubah. Kalau bisa langsung ke orang tua saja supaya lebih jelas dan lebih mudah dikontrol," ujarnya.

Advertisement

Ia menjelaskan, mekanisme penyaluran melalui pihak ketiga dalam bentuk dapur penyedia atau SPPG selama ini masih menghadapi sejumlah kendala teknis.

Salah satunya berkaitan dengan waktu distribusi makanan yang kerap memangkas durasi kegiatan belajar mengajar (KBM), serta proses pembagian kepada ribuan siswa di lingkungan sekolah.

Di SMAN 5 Mataram sendiri, terdapat lebih dari 1.300 siswa penerima MBG. Sekitar 30 persen di antaranya berasal dari kategori afirmasi atau keluarga kurang mampu. Kondisi tersebut dinilai menyulitkan apabila sekolah harus melakukan seleksi penerima secara terbuka.

"Kalau dalam satu sekolah kita harus memilah, itu kadang menimbulkan pertanyaan dari siswa. Padahal mereka sama-sama berada di lingkungan yang sama," katanya.

Menurut Sofyan, apabila bantuan diberikan langsung kepada orang tua, pengelolaan bantuan dapat menjadi tanggung jawab keluarga sehingga sekolah tidak lagi harus membedakan siswa berdasarkan kondisi ekonomi.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

MBG Dievaluasi, FITRA Sebut Tak Harus Semua Siswa Jadi Penerima Manfaat

MBG Dievaluasi, FITRA Sebut Tak Harus Semua Siswa Jadi Penerima Manfaat

FITRA menilai keberhasilan Program MBG, tidak hanya diukur dari luasnya cakupan penerima manfaat.

Demo Mahasiswa di Lombok Utara, Desak Evaluasi MBG hingga Soroti Tambak Udang

Demo Mahasiswa di Lombok Utara, Desak Evaluasi MBG hingga Soroti Tambak Udang

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Lombok Utara menggelar aksi unjuk rasa, kemarin (2

Tak Ada Insentif Selama MBG Berhenti Sementara, SPPG Fokus Pembenahan Total

Tak Ada Insentif Selama MBG Berhenti Sementara, SPPG Fokus Pembenahan Total

Distribusi Program MBG di NTB dihentikan sementara selama libur sekolah 22 Juni–13 Juli 2026 sesuai Surat Edaran Nomor 12 Tahun 2026.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer