Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kasus Kanker Payudara Usia Muda Ditemukan, YKI NTB Bekali Pelajar Cara Deteksi Dini

Y
Penulis: Yuyun Kutari❯
Foto bersama pihak YKI NTB dengan seluruh peserta, kegiatan sosialisasi dan Edukasi Kanker Payudara dan Pentingnya Deteksi Dini di SMKN 1 Mataram, Jumat (23/10). (YUYUN/LOMBOK POST)
Foto bersama pihak YKI NTB dengan seluruh peserta, kegiatan sosialisasi dan Edukasi Kanker Payudara dan Pentingnya Deteksi Dini di SMKN 1 Mataram, Jumat (23/10). (YUYUN/LOMBOK POST)

Advertisement

LombokPost-Pasien kanker payudara tak hanya ditemukan pada kelompok usia 40 tahun ke atas.

Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Onkologi dr Made Agus Suanjaya menyebut, pasien berusia 25–27 tahun juga ditemukan sehingga edukasi kesehatan perlu diberikan sejak usia sekolah. 

“Sekarang 2026, bukan lagi hanya 40 tahun ke atas. Anak muda-muda banyak. Yang paling baru 25–27 tahun, jadi masih muda usianya,” ungkap dr Agus.   

Advertisement

Hal itu disampaikannya saat kegiatan sosialisasi dan Edukasi Kanker Payudara dan Pentingnya Deteksi Dini yang digelar Yayasan Kanker Indonesia (YKI) NTB di SMKN 1 Mataram, Jumat (23/10).

Kegiatan dalam rangka Breast Cancer Awareness Month 2026 tersebut mengangkat subtema Meningkatkan Kesadaran dan Kepedulian Generasi Muda terhadap Kanker Payudara, dihadiri ratusan peserta; ada siswa, guru, hingga mahasiswa.

Advertisement

Agus menjelaskan, dari penelitian yang dilakukannya pada 2020 di RSUD NTB, terkait kasus kanker payudara se-NTB, pasien terbanyak saat itu berasal dari kelompok usia 40 tahun ke atas. Kasus yang ditemukan juga banyak berada pada stadium lanjut. 

Perubahan temuan kasus pada kelompok usia lebih muda, menjadi salah satu alasan pentingnya menyasar pelajar SMK sederajat. Menurutnya, pemahaman tentang kesehatan perlu diberikan sejak masa pubertas, ketika seseorang mulai membentuk kebiasaan makan, berolahraga, dan menjalani pola hidup sehari-hari.

Edukasi sejak dini menjadi, upaya untuk memutus mata rantai risiko penyakit sebelum berkembang pada kemudian hari. 

Informasi kesehatan yang tepat perlu diberikan kepada remaja agar mereka memahami pentingnya menjaga tubuh dan mengenali risiko kanker payudara. 

“Kanker ini tidak langsung, misalnya sekarang makan, besok kena oh tentu tidak seperti. Bisa nanti lima sampai sepuluh tahun lagi terjadi. Kalau dari awal kita potong mata rantainya, harapan kita nanti lima sampai sepuluh tahun lagi, semoga anak-anak kita ini tidak terkena kanker itu,” bebernya. 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Dikes Kota Mataram Temukan 6 Kasus Positif Kanker Serviks hingga Juni

Dikes Kota Mataram Temukan 6 Kasus Positif Kanker Serviks hingga Juni

fasilitas kesehatan tersebut telah menemukan sebanyak 6 kasus positif kanker serviks di Kota Mataram. 

Roadshow Skrining Kanker Payudara di Lombok Utara. Memutus Rantai Kanker Payudara Lewat Sentuhan Edukasi Gratis

Roadshow Skrining Kanker Payudara di Lombok Utara. Memutus Rantai Kanker Payudara Lewat Sentuhan Edukasi Gratis

Yayasan Sudamala Bumi Insani bersama Bali Pink Ribbon menggelar roadshow skrining gratis Yayasan Sudamala Bumi Insani dan Bali Pink Ribbon,

Disdik Mataram Siapkan Sanksi Pelajar Berseragam Nge-vape

Disdik Mataram Siapkan Sanksi Pelajar Berseragam Nge-vape

pihaknya bakal memperketat pengawasan dan meminta pihak sekolah tidak ragu memberikan sanksi tegas kepada siswa yang melanggar tata tertib.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer