Dilanda Kekeringan Ekstrem, BBWS NT I Bor Sumur untuk Selamatkan Tanaman Padi di Kota Bima

LombokPost-Kekeringan ekstrem akibat dampak El Nino mengancam lahan pertanian di Kota Bima.
Kondisi tersebut mendorong Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara (NT) I melakukan pengeboran sumur dangkal. “Ini untuk membantu memenuhi kebutuhan air irigasi bagi tanaman padi petani,” terang Plt Kepala BBWS NT I Antonius Suryono, Senin (26/10).
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kota Bima mencatat durasi Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 100 hari. Kondisi tersebut masuk kategori kekeringan ekstrem akibat fenomena cuaca yang sedang berlangsung.
Untuk itu, pengeboran sumur dangkal dilakukan di Kelurahan Jatiwangi, Kecamatan Asakota, Kota Bima. Salah satu penanganan dilaksanakan pada Jumat (23/10), di Daerah Irigasi La Cici, untuk membantu mengairi tanaman padi yang telah berusia 50 hari.
Pengeboran dilakukan hingga kedalaman sembilan meter. Sebanyak delapan hektare sawah terdampak kekeringan di DI La Cici, dengan Kelompok Tani (Poktan) So La Cici sebagai penerima manfaat.
Pengeboran telah selesai dan air sumur sudah dapat dimanfaatkan petani untuk mengairi tanaman padi yang membutuhkan pasokan air.
“Ketersediaan sumber air ini diharapkan, membantu petani menghadapi ancaman kekeringan dan meningkatkan peluang keberhasilan panen,” kata dia.
Selain itu, BBWS NT I Mataram juga melakukan pengeboran sumur dangkal sedalam sembilan meter di Kelurahan Jatiwangi untuk mendukung kebutuhan pengairan DI Raba Peto yang memiliki luas areal layanan enam hektare.
Penyediaan sumber air tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan pertanian di tengah ancaman kekeringan. Ke depan, pemantauan kebutuhan air irigasi akan terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan meningkatkan peluang keberhasilan panen. “Upaya ini juga sekaligus menjaga ketahanan pangan di NTB,” tandasnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) NTB Lalu Mirza Amir Hamzah sebelumnya mengklaim, dampak kemarau panjang terhadap produksi pertanian sejauh ini masih relatif terbatas. Petani dinilai mampu beradaptasi dengan menyesuaikan jenis tanaman berdasarkan ketersediaan air di lahan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




