LombokPost – Pemerintah secara resmi membuka opsi umrah mandiri bagi masyarakat, dan kebijakan ini disambut positif oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Tentunya bagi umat Islam yang berencana menunaikan ibadah umrah dengan ini akan dimudahkan.
Sebuah kebijakan yang memungkinkan calon jamaah untuk mengatur sendiri perjalanan ibadah mereka ke Tanah Suci tanpa terikat pada jadwal dan kuota rombongan besar dari biro perjalanan.
Baca Juga: Demi Efisiensi Waktu Ibadah, Kemenag NTB Kejar Rute Langsung Lombok-Jeddah
Kepala Kanwil Kemenag NTB, H. Zamroni Azis, menilai kebijakan tersebut sebagai langkah progresif untuk mempermudah masyarakat menunaikan ibadah ke Tanah Suci.
Zamroni Azis menekankan bahwa umrah mandiri adalah bagian dari penyesuaian terhadap perkembangan sistem pelayanan ibadah di era digital.
“Kami menyambut baik kebijakan umrah mandiri ini, karena merupakan bagian dari upaya memudahkan masyarakat kita untuk melaksanakan ibadah ke Tanah Suci. Tidak perlu lagi menunggu rombongan besar, masyarakat bisa mengatur keberangkatannya sendiri secara online,” ujar Zamroni Azis di Mataram.
Ia menjelaskan, pelaksanaan umrah memang sejak awal dikelola oleh pihak swasta, berbeda dengan ibadah haji yang menjadi tanggung jawab pemerintah.
Dengan kebijakan baru ini, masyarakat dapat mengurus berbagai keperluan ibadah secara digital melalui sistem yang telah disediakan oleh Pemerintah Arab Saudi.
“Sekarang semuanya serba online. Pemerintah Arab Saudi juga sudah mempermudah prosesnya, mulai dari pendaftaran hingga pengurusan visa. Jadi masyarakat bisa mengakses layanan itu kapan saja,” katanya.
Ini memberikan fleksibilitas dan efisiensi waktu bagi jamaah.
Kebijakan umrah mandiri ini juga sejalan dengan kemajuan sistem pelayanan yang diterapkan oleh Pemerintah Arab Saudi, di mana proses pengurusan visa dan layanan terkait perjalanan ibadah kini didominasi oleh sistem digital.
Meskipun demikian, Kemenag mengingatkan agar jemaah yang memilih jalur mandiri harus memiliki kesiapan diri yang matang, termasuk pemahaman fikih ibadah dan kemampuan adaptasi di luar negeri, mengingat seluruh tanggung jawab perjalanan kini berada di tangan jemaah.
Editor : Pujo Nugroho