LombokPost-Banjir yang melanda Desa Kidang, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah menyebabkan ratusan kepala keluarga (KK) terdampak dan ratusan hektare lahan tambak terendam. Peristiwa ini disebut sebagai banjir terparah sejak 2016.
Kepala Desa Kidang Tarnadi turun langsung meninjau wilayah terdampak bersama Bhabinkamtibmas, Babinsa, kepala dusun, dan warga. Salah satu titik yang dikunjungi yakni Dusun Batu Berungguk yang mengalami dampak cukup serius.
Selain Batu Berungguk, dua dusun lain ikut terdampak yakni Dusun Peras dan Mekar Sari. Data sementara mencatat Dusun Peras menjadi wilayah dengan jumlah terdampak terbanyak yakni 146 kepala keluarga (KK). Disusul Dusun Batu Berungguk sebanyak 90 KK dan Dusun Mekar Sari 50 KK.
“Alhamdulillah, sejak sekitar pukul 23.45 Wita tadi malam (Selasa, red) air mulai berangsur surut. Semoga kondisi seperti ini tidak terulang lagi,” ujar Tarnadi yang dikonfirmasi Lombok Post, Rabu (25/2).
Meski air mulai surut, kerugian yang ditimbulkan tidak sedikit. Banjir merendam lahan tambak seluas 339,3 hektare, meliputi tambak udang dan tambak garam. Hampir setengah tambak warga dilaporkan mengalami kerusakan, mulai dari tanggul yang ambruk hingga infrastruktur tambak yang jebol.
Belasan ton garam yang tersimpan di gudang terendam banjir dengan estimasi kerugian sekitar Rp 300 juta. Selain itu, ikan air tawar seperti bandeng, nila, dan karper hanyut dengan taksiran kerugian Rp 75 juta. Sementara udang vaname yang lepas dari tambak diperkirakan merugi hingga Rp 175 juta.
“Kalau ditotal mungkin hampir setengah miliar rupiah kerugian (materil),” cetus dia.
Menurut Tarnadi, dampak paling berat justru dirasakan pada sektor usaha budi daya warga, bukan pada rumah yang terendam. Sebab, mayoritas warga menggantungkan hidup dari tambak udang, ikan, dan produksi garam.
“Banjir ini hampir setiap tahun terjadi, bahkan bisa dua sampai tiga kali dalam setahun. Setiap kali itu pula warga harus menanggung kerugian,” keluhnya.
Selain merusak tambak, banjir juga menyebabkan kerusakan fasilitas umum seperti jalan dan jembatan. Pemerintah desa berharap ada penanganan serius dan solusi jangka panjang agar bencana serupa tidak terus berulang dan menggerus perekonomian warga pesisir.
Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Loteng Ridwan Macruf menyampaikan, hujan dua hari terakhir menyebabkan tiga kecamatan terdampak banjir. Yaitu Praya Timur, Praya Barat, dan Praya Barat Daya, serta di Batukliang Utara ada rumah warga tertimpa pohon tumbang akibat longsor.
“Kalau total tiga kecamatan sebanyak 1.507 kepala keluarga dalam dua hari tersebut,” katanya.
Adapun penyebab banjir yang terjadi di tiga kecamatan ini karena hujan terus-menerus. Selain itu akibat penggundulan lahan, seperti yang terjadi di Dusun Mengalong, Desa Kuta, Pujut.
Menghadapi bencana banjir, kata Ridwan, dari sisi anggaran masih mencukupi sebesar Rp 167 juta ditambah logistik berupa makanan instan. Jika kekurangan, pihaknya segera berkoordinasi dengan BNPB dan telah menaikkan status bencana dari Siaga menjadi Tanggap Darurat.
“Keputusan penetapan tanggap darurat diambil karena luasnya wilayah terdampak, serta meningkatnya jumlah warga yang menjadi korban. Status ini juga menjadi dasar kita meminta bantuan, harus ada itu (status kebencanaan),” terang dia.
Bencana di Lotim, Kecamatan Jerowaru Terparah
Hujan lebat disertai angin kencang yang melanda Lombok Timur (Lotim) sejak tiga hari terakhir mengakibatkan puluhan desa terdampak bencana banjir, tanah longsor hingga pohon tumbang. Kondisi terparah menimpa Kecamatan Jerowaru.
"Dari hasil pendataan kami, hampir 15 desa di Kecamatan Jerowaru terdampak banjir. Namun, kondisi mereka berbeda-beda," terang Camat Jerowaru Sirah dikonfirmasi Lombok Post, Rabu (25/2).
Sirah menyebut dari 15 desa itu, delapan desa mengalami dampak cukup parah. Yakni Desa Ekas Buana, Seriwe, Pandan Wangi, Suka Damai, Wakan, Sukaraja, Kuang Rundun dan Pemongkong.
Pada Selasa malam, kondisi banjir mulai surut di beberapa desa. Namun, hujan yang kembali turun hari ini dikhawatirkan akan kembali merendam rumah warga.
Selain merendam ratusan rumah warga, banjir juga mengakibatkan empat sekolah di Kecamatan Jerowaru terendam. Yakni SDN 4 Pandan Wangi, SDN 2 Sukaraja, SDN 2 Suka Damai dan SDN 3 Seriwe. Aktivitas belajar mengajar di empat sekolah itu sementara belum bisa dilakukan.
"Rumah warga yang terdampak masih sedang dilakukan pendataan di masing-masing desa. Di Desa Ekas Buana yang terdampak 400 KK, Suka Damai itu sekitar 20 KK dan Seriwe 70 rumah, itu saja yang sudah melaporkan," jelas Sirah.
Sejumlah warga saat ini mengungsi ke rumah warga atau tetangga yang masih aman. Warga membutuhkan makanan siap saji dan air minum, terlebih saat ini kondisi warga sedang puasa.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lotim M Nurul Wathoni menyampaikan, jumlah SD yang terdampak banjir akibat hujan lebat tiga hari ini sebanyak lima sekolah. Empat sekolah di Kecamatan Jerowaru dan satu sekolah di Kecamatan Labuhan Haji.
"Kami sudah meminta sekolah-sekolah yang terdampak banjir untuk belajar dari rumah," katanya.
Editor : Redaksi Lombok Post