Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Satu Tahun, Pertanian NTB Bangkit dan Membuka Peluang Baru, Padi Melonjak, Jagung Tetap Tangguh

Lombok Post Online • Senin, 2 Maret 2026 | 10:36 WIB

 

Prof. Taufik Fauzi, M.Sc, P.Hd
Prof. Taufik Fauzi, M.Sc, P.Hd
 

Oleh: Prof. Taufik Fauzi, M.Sc, P.Hd

LombokPost - Satu tahun kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal dan Indah Dhamayanti Putri (Iqbal-Dinda) menjadi momentum penting kebangkitan sektor pertanian.

Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan fondasi ekonomi daerah yang kian kokoh.

Inflasi terkendali, petani menikmati keuntungan, dan produksi pangan, terutama padi melonjak tajam.

Inflasi Terkendali, Pangan Tetap Aman

Pada Oktober 2025, inflasi tahunan (year on year) NTB tercatat 2,96 persen. Angka ini relatif aman cukup rendah untuk menjaga daya beli masyarakat, namun tetap memberi ruang bagi pertumbuhan ekonomi.

Menariknya, tekanan inflasi bukan terutama berasal dari beras atau daging, melainkan dari emas perhiasan dan cabai merah yang sangat sensitif terhadap cuaca dan pasokan antar daerah.

Artinya, di tengah ketidakpastian global dan cuaca yang tak menentu, harga pangan strategis di NTB tetap terjaga cukup stabil.

Petani Untung, Daya Beli Menguat

Nilai Tukar Petani (NTP) NTB pada Oktober 2025 mencapai 126,34—jauh di atas angka 100 yang menjadi batas impas. Seluruh subsektor berada di zona positif (https://ntb.bps.go.id/id/pressrelease/2025/11/03/1084/oktober-2025--nilai-tukar-petani-ntp-provinsi-nusa-tenggara-barat-sebesar-126-34-atau-naik-0-65-persen-.html).

Baca Juga: Festival Peresean NTB Mendunia Akhirnya Ditutup, Budaya Sasak yang Selalu Banjir Penonton

-   Tanaman pangan: 124,73

-   Hortikultura: 182,92

-   Perkebunan rakyat: 103,71

-   Peternakan: 113,28

-   Perikanan: 107,24

Kenaikan ini terjadi karena harga yang diterima petani naik lebih tinggi dibanding biaya yang mereka keluarkan. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) bahkan menembus 129,25, menegaskan bahwa posisi tawar dan daya beli rumah tangga petani terus membaik.

Hortikultura mencatat angka tertinggi, menunjukkan bahwa petani bukan hanya bertahan, tetapi benar-benar memperoleh margin keuntungan yang lebih baik.

Perbaikan ini mencerminkan hasil berbagai intervensi: optimalisasi lahan, perbaikan saluran irigasi, bantuan sarana produksi, hingga penguatan akses pasar. Pertanian kembali menjadi sektor yang memberi harapan.

Padi Melonjak, Jagung Tetap Tangguh

Produksi padi 2025 diperkirakan mencapai 2,04 juta ton GKP—naik sekitar 16,65 persen dibanding tahun sebelumnya. Luas panen juga bertambah signifikan.

Jika dikonversi menjadi beras, produksinya mendekati satu juta ton, sehingga memperkuat posisi NTB sebagai salah satu lumbung beras nasional.

Sementara itu, produksi jagung tetap berada di kisaran 1,20 juta ton. Meski terdapat penyesuaian luas tanam karena sebagian lahan beralih ke padi (yang juga menunjukkan kemampuan petani untuk menentukan pilihan tanaman yang tepat), jagung tetap menjadi penopang penting bagi ketahanan pangan dan industri pakan ternak.

Hortikultura Lahan Sempit, Peluang Emas Petani Kecil

Di balik cerita besar padi dan jagung, tersimpan peluang yang tak kalah strategis: hortikultura di lahan sempit. Cabai, bawang merah, tomat, sayuran daun, hingga buah-buahan pekarangan memiliki nilai ekonomi tinggi dengan siklus panen yang relatif cepat.

Bagi petani dengan kepemilikan lahan terbatas, bahkan di bawah setengah hectare, hortikultura menjadi pintu masuk peningkatan pendapatan. Dengan manajemen intensif, irigasi tetes sederhana, dan akses pasar yang baik, lahan kecil dapat menghasilkan nilai tambah yang signifikan.

Hasil penelitian kami di Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan petani hortikultura dengan luas garapan sekitar 3,2 are dari budidaya campuran cabai rawit, tomat, serta kacang panjang dapat mencapai sekitar Rp. 6.923.097 per sekali produksi.

Sehingga, model pekarangan produktif, greenhouse skala rumah tangga, dan budidaya sayuran organik akan dapat mendukung cita-cita mengentaskan kemiskinan melalui program Desa Berdaya karena padat karya dan melibatkan keluarga, memberi peluang bagi perempuan dan generasi muda, tidak membutuhkan lahan luas, dan cepat menghasilkan arus kas.

Desa dapat mendorong pembentukan klaster hortikultura berbasis kelompok tani, didukung pelatihan teknis dan akses permodalan mikro melalui BUMDes.

Terkait Program MBG, Pasar Pasti untuk Produk Lokal

Peluang hortikultura lahan sempit menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mendorong penyediaan makanan sehat dan bergizi bagi anak sekolah.

Program ini membutuhkan pasokan sayuran segar, telur, buah, dan sumber protein lokal secara rutin dan dalam jumlah besar. Di sinilah petani hortikultura NTB memiliki peluang emas.

-   Sayuran daun dan sayuran buah untuk menu harian sekolah

-   Cabai dan bumbu segar untuk dapur umum

-   Telur dan produk peternakan skala kecil sebagai sumber protein

-   Buah lokal sebagai penunjang gizi anak-anak

Jika rantai pasok diatur dengan baik—melibatkan kelompok tani, koperasi, dan BUMDes—MBG dapat menjadi pasar tetap (off-taker) yang menjamin serapan hasil petani lahan sempit.

Ini bukan hanya soal produksi, tetapi juga tentang menciptakan kepastian pasar dan stabilitas harga di tingkat petani.

Transformasi yang Mulai Terlihat

Satu tahun terakhir menunjukkan fondasi yang kuat: inflasi terkendali, petani untung, dan produksi meningkat. Langkah berikutnya adalah memperluas dampak melalui diversifikasi, hilirisasi, dan integrasi dengan program sosial seperti MBG.

Jika padi dan jagung menjadi tulang punggung ketahanan pangan, maka hortikultura lahan sempit dapat menjadi mesin pemerataan kesejahteraan. Dari sawah luas hingga pekarangan rumah, dari produksi di tingkat petani hingga konsumsi di meja makan anak sekolah—rantai nilai pertanian NTB dapat terhubung dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

Pertanian NTB sedang bergerak. Tantangannya adalah menjaga konsistensi kebijakan dan memastikan setiap kenaikan produksi benar-benar bertransformasi menjadi peningkatan kesejahteraan bagi keluarga petani di seluruh pelosok NTB. (Anggota Tim Ahli Gubernur NTB dan Guru Besar Pertanian, Fakultas Pertanian Unram/r3)

Editor : Kimda Farida
#BPS #Inflasi #Beras #Ekonomi #NTB