LombokPost - Kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah, mulai berdampak pada sektor pariwisata khususnya destinasi Tiga Gili; Trawangan, Meno dan Air, di Lombok Utara, NTB.
“Penurunan jumlah wisatawan internasional tak dapat dihindari,” terang Ketua Gili Hotel Association (GHA) Lalu Kusnawan, Kamis (12/3).
Kondisi tersebut sudah mulai terasa dalam beberapa waktu terakhir. Ia memperkirakan jumlah wisatawan yang datang ke Tiga Gili berkurang cukup signifikan dibandingkan kondisi normal.
“Sudah berpengaruh, sekitar 25 persen kita berkurang, ya mudah-mudahan tidak bertambah,” katanya.
Ia menjelaskan, pada periode normal seperti bulan Maret, kunjungan wisatawan ke kawasan Tiga Gili biasanya mencapai lebih dari 2.000 orang. Dengan penurunan sekitar 25 persen, jumlah wisatawan yang berkurang diperkirakan mencapai lebih dari 500 orang.
“Kalau musim Maret biasanya sekitar 2.000-an wisatawan di Tiga Gili. Berarti kalau turun 25 persen, sekitar 500 wisatawan lebih yang berkurang,” ungkap pria yang juga ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) NTB tersebut.
Menurutnya, penurunan ini mayoritas berasal dari wisatawan mancanegara, terutama dari kawasan Eropa. Meski negara asal mereka tidak terdampak langsung oleh konflik di Timur Tengah, kekhawatiran terhadap dampak global dari situasi tersebut memengaruhi keputusan mereka untuk bepergian.
“Walaupun mereka tidak terdampak langsung, tapi ada kekhawatiran. Efek dari perang itu membuat orang berpikir ulang,” katanya.
Kusnawan melihat, dampak yang muncul lebih bersifat psikologis. Para wisatawan sebenarnya sudah merencanakan perjalanan. Namun, munculnya kekhawatiran terhadap potensi krisis global, seperti krisis minyak maupun persoalan ekonomi di negara asal, membuat mereka mempertimbangkan kembali rencana tersebut.
Karena dampak dari situasi tersebut dapat meluas ke berbagai sektor, dan tidak hanya berkaitan dengan akses penerbangan atau operasional bandara. “Dampaknya bisa ke mana-mana, bukan hanya soal bandara atau penerbangan,” ujarnya.
Kekhawatiran tersebut bisa memengaruhi keputusan masyarakat untuk menunda perjalanan wisata. “Misalnya Australia, secara demografis tidak terdampak. Tapi kalau perekonomian negaranya terpengaruh, orang pasti berpikir lagi. Mungkin mereka memilih menunda dulu perjalanan dan berhemat,” katanya.
Terkait penurunan kunjungan, Kusnawan menjelaskan sebagian wisatawan memang membatalkan perjalanan, namun ada juga yang memilih menjadwalkan ulang.
“Ada yang cancel, ada juga yang reschedule. Ada yang pindah ke tahun depan, ada juga yang ke akhir tahun sambil melihat situasi,” ujarnya.
Para pelaku usaha pariwisata saat ini hanya bisa memantau perkembangan situasi global. Menurutnya, langkah seperti menurunkan harga atau meningkatkan promosi tidak selalu efektif karena penyebabnya berasal dari faktor eksternal berskala global.
“Kita mau menurunkan harga bagaimana, mau promosi juga bagaimana. Ini kan kondisi dunia,” kata dia.
iranBaca Juga: Susul Iran, 7 Negara Besar Pertimbangkan Mundur Dari Piala Dunia
Meski demikian, para pengusaha pariwisata tidak mengeluhkan penurunan jumlah kunjungan. Mereka memahami bahwa situasi ini terjadi akibat kondisi global yang berada di luar kendali pelaku usaha.
“Keluhan sebenarnya bukan penurunan tamunya, tapi situasi perangnya, mudah-mudahan saja ini segera berakhir,” pungkasnya.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah berpotensi memengaruhi kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya dari Eropa dan Timur Tengah, ke NTB.
Menurutnya, hal tersebut berkaitan dengan jalur penerbangan yang selama ini banyak digunakan wisatawan menuju NTB. Sebagian besar wisatawan Eropa maupun Timur Tengah biasanya menggunakan maskapai seperti Qatar Airways, Emirates, dan Etihad Airways yang melakukan transit di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah sebelum melanjutkan perjalanan ke Indonesia.
Editor : Kimda Farida