
LombokPost - Senja di pesisir Kuta Mandalika selalu punya cara ampuh untuk menjernihkan pikiran. Semburat jingga yang memantul di atas ombak seolah merangkul pulau ini dalam harmoni yang utuh.
Ketenangan yang terasa sangat kontras jika kita melirik layar gawai akhir-akhir ini, yang tak henti-hentinya dibombardir oleh hiruk-pikuk ketegangan global.
Namun, bagi seorang analis intelijen, bertugas di daerah yang tenang bukanlah penanda bahwa kita terputus dari denyut nadi dunia. Sebaliknya, ketenangan adalah ruang kontemplasi terbaik untuk membedah sinyal-sinyal samar dari seberang samudra dengan kepala dingin.
Baca Juga: Kapal Filipina Diizinkan Melintasi Selat Hormuz, Wapres Sara Duterte Siap Maju di Pilpres Filipina
Belakangan ini, ada satu kecemasan yang sering mampir di obrolan warung kopi hingga ruang diskusi publik: bagaimana nasib ekonomi kita di daerah kalau ketegangan di Selat Hormuz benar-benar meledak?
Pertanyaan ini sangat logis. Selat Hormuz ibarat urat nadi bagi jantung energi dunia. Secara hitung-hitungan awam, percikan api sekecil apa pun di sana pasti akan langsung memicu lonjakan harga bensin.
Namun, jika fenomena ini kita bedah menggunakan pisau analisis perkiraan intelijen (intelligence estimation), lanskap masa depan yang terbentang ternyata jauh lebih menarik dan melegakan daripada sekadar ketakutan akan inflasi sesaat.
Belajar dari Teori Akselerasi
Dalam dunia intelijen strategis, kita mengenal konsep pengenalan pola (pattern recognition). Mari putar waktu sejenak ke periode pertama administrasi Donald Trump, yang kebetulan beririsan dengan hantaman pandemi global Covid-19.
Secara akademis, pandemi saat itu bertindak sebagai akselerator paksaan (forced accelerator) sebuah tekanan eksternal mahadahsyat yang memaksa umat manusia melakukan lompatan evolusi. Digitalisasi yang diprediksi pakar butuh waktu adaptasi satu dekade, mendadak terwujud masif hanya dalam hitungan bulan.
Kita dipaksa lincah menggunakan teknologi virtual demi satu alasan mutlak: bertahan hidup. Hari ini, di ambang periode kedua administrasi yang sama, sebuah pola berulang mulai terbentuk. Bedanya, "tekanan eksternal" kali ini bukan virus mikroskopis, melainkan ketegangan geopolitik dan unjuk kekuatan militer. Jika dulu pedal gas ditekan paksa menuju dunia digital, kini yang dipaksa berlari kencang menerjang batas adalah transisi energi bersih.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




