
Oleh Lalu Mokh Reza Anshari, ST., M.Ling.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTB
Asap tebal membubung dari tumpukan jerami di sawah yang telah dipanen. Perlahan, pepohonan di sekitarnya tersamar. Pemandangan seperti ini masih dijumpai di sebagian lahan pertanian Nusa Tenggara Barat. Di tengah upaya memperkuat ketahanan pangan, pengelolaan sisa panen menjadi salah satu pekerjaan yang perlu mendapat perhatian karena berhubungan dengan kesehatan tanah dan kualitas udara.
Sawah merupakan ruang produksi sekaligus bagian dari lingkungan tempat masyarakat hidup. Tanah yang sehat menopang tanaman, sementara udara bersih mendukung kesehatan petani dan keluarganya. Hubungan ini menjadikan pemeliharaan lingkungan sebagai bagian dari upaya menjaga kemampuan daerah menghasilkan pangan secara berkelanjutan.
Visi pembangunan NTB 2025–2029, “Bangkit Bersama Menuju NTB Provinsi Kepulauan yang Makmur dan Mendunia”, yang diusung Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri, memberi arah bagi pekerjaan tersebut. Triple Agenda pembangunan daerah mencakup pengentasan kemiskinan, penguatan ketahanan pangan, dan pengembangan NTB sebagai destinasi wisata berkelas dunia. Ketiganya memerlukan lingkungan yang mampu menopang kegiatan ekonomi serta kehidupan masyarakat.
Khusus pada agenda ketahanan pangan, arah menjadikan NTB sebagai lumbung pangan nasional memerlukan kesinambungan produksi. Sawah perlu tetap mampu berproduksi dari satu musim ke musim berikutnya, dengan kondisi tanah yang terpelihara dan pengelolaan sumber daya yang semakin efisien. Dalam kerangka inilah pengelolaan jerami dapat menjadi salah satu langkah praktis untuk mendukung ketahanan pangan dari tingkat lahan.
Pembakaran jerami mempunyai alasan yang perlu dipahami. Petani membutuhkan lahan yang segera siap diolah, tenaga yang terjangkau, dan kepastian waktu tanam berikutnya. Sebagian juga memanfaatkan abu pembakaran untuk menyumbang kesuburan. Pemahaman terhadap kebutuhan ini akan membantu kita menghadirkan perbaikan yang dapat diterapkan petani.
Abu jerami memang masih mengandung sebagian unsur hara, terutama kalium. Namun, pembakaran menyebabkan sebagian besar nitrogen dalam jerami hilang, disertai kehilangan unsur hara lain dan karbon organik. Karena itu, manfaat abu perlu dilihat bersama nilai bahan yang hilang selama pembakaran. Jerami sebelum dibakar masih menyimpan potensi untuk mendukung pengelolaan kesuburan tanah.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





