LombokPost - Suatu ketika, saya membuka arsip kliping koran yang terhimpun pada rak lemari buku. Dari sekian banyak orang yang tuman mengkliping koran media cetak, saya termasuk yang masih menyiklus kliping opini/artikel yang telah dimuat para media.
Sontak saya tertegun dan senyum simpul, melihat tulisan opini/artikel sekitar 21 tahun silam. Pernah menulis opini/artikel bertema Hari Ulang Tahun ke-46 Nusa Tenggara Barat, pada rubrik media ini (Lombok Post). Suatu torehan reflektif, ala aktivis dalam bahasa tren kala itu bertajuk “NTB Ngapain Aja”.
Tentu disesuaikan dengan suasana realita yang mengitarinya serta pemikiran penulis yang bergulat-gumam pada lanskip aktivis kepemudaan. Kini, saya menoreh kembali tulisan “serupa tapi tak sama” saat HUT ke-67 NTB, dengan langgam dan perspektif berbeda.
NTB sebagai provinsi kepulauan memiliki letak posisi strategis. Diapit pulau-pulau antarprovinsi, dikelilingi semenanjung pantai dengan berbagai biota laut serta dihampar gunung, hutan dan perbukitan yang menjulang. Dari sisi ini saja, kita bisa memastikan bahwa NTB padat sumber daya alam.
Belum lagi pertambangannya, belum pula bertakar pada potensi agromaritim perikanan, pertanian, peternakan, pariwisata serta sederet potensi pengembangan lainnya. Apabila dioptimasi maksimal, maka terjadi peningkatan progresif pada aspek-aspek tersebut, untuk kesejahteraan dan kebanggaan daerah.
Diantaranya, perluasan pendapatan daerah yang digenjot, layanan publik ditingkatkan, infrastruktur yang dibangun, konektivitas dihubungkan hingga mengatensi pemerintah desa agar lebih berdaya.
Untuk menuju itu semua, Pemerintah Provinsi NTB pada visi Bangkit Bersama Menuju NTB Provinsi Kepulauan yang Makmur Mendunia menenkan pada tiga prioritas utama. Yaitu Pengentasan Kemiskinan Ekstrem, Penguatan Ketahanan Pangan, dan Pengembangan Pariwisata Berkualitas (Kelas Dunia).
Pada prioritas pertama, Pemprov bertekad untuk menekan kemiskinan ekstrem hingga nol pada tahun 2029, melalui atensi kebijakan Desa Berdaya, khususnya pada 106 desa yang berkategori miskin ekstrem dan stimulan fiskal 300-500 juta per desa di NTB.
Upaya lainnya, Program dari Perangkat Daerah NTB yang berkaitan dengan desa, mengelola program kegiatannya secara komplementer pada 106 desa tersebut. Dengan begitu, diharapkan desa-desa yang berkategori kemiskinan ekstrem dapat terkerek, tak lagi mengalami kemiskinan ekstrem. Meningkat kesejahteraannya, berdaya desanya.
Prioritas kedua, Ketahanan Pangan yang pada akhirnya NTB mampu eksis dengan kemandirian pangan. Bahkan bisa menjadi satu daerah dari berbagai daerah pemasok ketahanan pangan nasional.
Tampaknya, hal ini tak begitu rumit, lantaran NTB pada purwa kalanya pernah mengalami swasembada Beras dilingkupi hasil Palawija yang menopang pangan nasional. Julukan populer saat itu adalah NTB Bumi Gogo Rancah (Bumigora), lumbung pangan nasional.
Pentingnya pangan, selain dipengaruhi faktor anomali perubahan iklim berbagai kawasan, peperangan di belahan dunia, serta tren keinginan manusia mengonsumsi pangan yang natural dan segar. Pangan adalah kebutuhan pokok, reguler berkelanjutan. Apalagi, ada program nasional dari Presiden Prabowo Subianto berkaitan dengan Program Makan Bergizi Gratis yang telah diterapkan. Langsung maupun tidak langsung bertautan erat dengan pasokan bahan pangan.
Prioritas ketiga, Pariwisata Berkualitas yang menjadi standar kelaikan dari suatu layanan kepariwisataan unggulan. Kepuasan dan kenyamanan wisatawan dapat memacu destinasi, baik wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara.
Pemprov NTB melalui Kebijakan Wisata MICE (Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions) yang mengundang semua stakeholders untuk membuat event pertemuan nasionalnya di NTB. Selain itu pula, ada Kebijakan Wisata Sport dengan adanya Kawasan Mandalika untuk Arena Balap, beberapa pantai digunakan sebagai Arena Selancar, areal sabana perbukitan untuk Arena Paralayang, serta permainan olahraga tradisional yang memantik destinasi para wisatawan.
Sealur dengan tiga prioritas tersebut, ada penyangga yang menopang prioritas utama. Penyangga sebagai tumpuan terap dari tindak lanjut prioritas utama di lapangan menyangkut konektivitas. Secara umum menguatkan dan melancarkan konektivitas infrastruktur, konektivitas transportasi dan konektivitas sinyal.
Pemprov NTB pada tahun 2025, menyadur informasi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi NTB, telah membangun infrastruktur jalan di kabupaten/kota se-NTB. Rekonstruksi Jalan Simpang Tano – Simpang Seteluk sepanjang 3,8 Kilometer senilai 32,5 miliar di Kabupaten Sumbawa Barat, untuk memperlancar akses pelabuhan dan mengatasi banjir Tambaksari. Penanganan Long Segment Lenangguar – Lunyuk, untuk menangani Tebing Longsor dan akses tak terputus yang menghemat waktu tempuh 5-6 jam senilai 20,08 miliar di Kabupaten Sumbawa.
Kemudian Rehabilitasi Jaringan Irigasi Kadindi yang nantinya irigasi tersebut, dapat mengubah pola tanam petani menjadi Padi-Padi/Palawija, senilai 4,9 miliar di Kabupaten Dompu. Adapun di Bima, infrastruktur yang dibangun adalah penggantian Jembatan Doro O’o (Langgudu), penghubung ekonomi dua kecamatan yang rusak akibat banjir, senilai 6,29 miliar. Sedangkan pembangunan infrastruktur di Pulau Lombok, difokuskan pada infrastruktur penunjang pariwisata yaitu Rekonstruksi Jalan Tanjung Geres – Pohgading senilai 28 miliar di Lombok Timur, Rehabilitasi Irigasi Jaringan Santong senilai 3,3 miliar di Lombok Utara, dan di Lombok Tengah dengan membangun Jembatan Selong Belanak, senilai 4 miliar.
Dalam hal jalur konektivitas transportasi. Pemprov NTB sedang merancang adanya jalur pembuka alternatif pelayaran dari dan ke Pelabuhan Lembar – Pelabuhan Sape sehingga melengkapi konektivitas transportasi dari dan ke Pelabuhan Kayangan – Pelabuhan Pototano yang menghubungkan dua pulau di NTB. Begitu pula dengan jalur rute baru penerbangan yang menghubungkan Malang - Lombok dan sebaliknya empat kali dalam sepekan, sejak tanggal 15 Desember 2025. Rencananya, segera dibuka pula rute Lombok – Bandung.
Untuk penerbangan internasional, jalur Lombok – Perth dan Jalur Lombok – Bangkok dan sebaliknya, tampaknya tak lama lagi. Ini menunjukkan bahwa konektivitas transportasi terus meluas dan bertransformasi, seiring dengan ritme visi dan misi kebijakan Makmur Mendunia.
Selain itu pula, ada rencana pembangunan jalan bypass Port to Port Lembar – Kayangan sebagai alternatif jalan yang eksis sekarang, sehingga dapat melancarkan ekspedisi logistik, memacu destinasi wisatawan, karena jarak tempuh bisa dipangkas, nyaris hanya dibutuhkan waktu tempuh berkisar 2 jam, dari semula 4-6 jam perjalanan. Studi kelayakannya pun selesai pada tahun ini (2025). Pada tahun 2026 nantinya, dilakukan perencanaan konstruksi dari rincian desain teknik, pembebasan lahan serta pengurusan analisa dampak lingkungan.
Adapun peningkatan pembangunan Base Transceiver Station (BTS) sebagai bagian dari konektivitas sinyal terus diperbanyak pengembangan jaringannya hingga kian sedikit daerah blanspot dan kian sedikit pula sinyal lemah, terutama pada kawasan pedesaan dan pelosok lereng (terdepan, terpencil, dan terluar). Per Oktober 2025, Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi NTB, mencatat masih terdapat 33 titik blankspot dan 124 titik lemah sinyal di NTB.
Dengan demikian, daerah lainnya sudah bisa cukup memadai internet, sehingga layanan digital telah dapat dinikmati masyarakat untuk berkegiatan ekonomi maupun aktivitas sehari-hari. Pihak Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi sebagai representasi pengelolaan jaringan telekomunikasi dari Kementerian Komunikasi dan Digital berkomitmen mengoptimalkan jaringan BTS sinergi kolaborasi bersama provider dan pemerintah daerah kabupaten/kota.
Pada masa mendatang menatap 2026 dari refleksi 2025, tiga konektivitas antara konektivitas infrastruktur, konektivitas transportasi dan konektivitas sinyal menjadi penyangga tumpu cakupan keberhasilan program unggulan dan prioritas utama kebijakan-kebijakan Pemprov NTB menuju Makmur Mendunia.
Melalui NTB Connected yang menerpadukan infrastruktur, transportasi dan sinyal sehingga bertransformasi sekaligus berdampak bagi pertumbuhan ekonomi, dunia pariwisata, serta keberimbangan kawasan pembangunan. Dari purwa kala kita meneroka perkembangan NTB hingga ke purwadaksina: secercah optimisme kemaslahatan bahwa NTB bergerak dan terus tumbuh bergerak. Sesuai tagline HUT ke-67 kini: Gerak Cepat NTB Hebat.(*)
Editor : Marthadi