Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mata Sehat Itu Bukan Bonus

Nurul Hidayati • Kamis, 1 Januari 2026 | 10:06 WIB
dr. Lalu Hermawan Ranova
dr. Lalu Hermawan Ranova

LombokPost - Feature Majalah Medis: dari Sindrom Mata Kering (Dry Eye Disease) & Digital Eye Strain (Computer Vision Syndrome) sampai glaukoma yang “mencuri” penglihatan diam-diam.

Jam 16.30, layar laptop masih menyala, notifikasi rapat belum berhenti. Kamu mengucek mata—sekali, dua kali. Awalnya cuma terasa perih dan panas. Besoknya muncul lagi. Minggu berikutnya mulai sering kabur sebentar, lalu membaik setelah berkedip. Kamu menyimpulkan: “cuma capek.”

Masalahnya, mata itu bukan mesin yang bisa dipaksa terus dan “normal lagi” dengan tidur semalam. Sebagian keluhan memang sederhana (misalnya mata kering). Tapi sebagian lain adalah sinyal dini penyakit yang kalau telat ditangani bisa meninggalkan kerusakan permanen. Artikel ini sengaja tidak menenangkan: tujuannya bikin kamu bisa membedakan kapan cukup ubah kebiasaan, dan kapan harus periksa.

1) Sindrom Mata Kering (Dry Eye Disease) & Digital Eye Strain (Computer Vision Syndrome): Keluhan pada mata Akibat Paparan Layar Digital

Mata kering terjadi ketika kualitas atau kuantitas air mata tidak cukup menjaga permukaan mata tetap stabil.

Pada banyak orang, pemicunya sederhana: kita menatap layar terlalu lama sehingga frekuensi berkedip menurun, ditambah paparan AC/ruang kering, kurang tidur, atau penggunaan lensa kontak.1,6

Gejala yang sering muncul

Perih, panas, seperti berpasir.

Mata merah, cepat lelah, dan terasa berat.

Penglihatan kadang buram lalu membaik setelah berkedip.

Mata berair berlebihan (air mata refleks karena iritasi).

Kalau kamu sering memakai tetes mata hanya untuk “menghilangkan merah” tanpa mengecek penyebabnya, itu pola yang salah. Keluhan kering ringan biasanya lebih cocok dibantu air mata buatan, sambil membenahi kebiasaan dan pemicunya.

Rutinitas 3 langkah yang realistis:

Aturan 20-20-20: tiap 20 menit, istirahat 20 detik, lihat objek sekitar 20 kaki (±6 meter).

Kedip sadar saat bekerja (setel pengingat bila perlu).

Atur lingkungan: posisi layar sedikit di bawah garis pandang, kurangi hembusan AC langsung ke wajah, cukup minum.

Bila keluhan menetap lebih dari 2–4 minggu, makin berat, atau disertai nyeri signifikan, jangan hanya “ganti merek tetes mata”. Perlu evaluasi karena mata kering bisa punya pemicu lain dan ada kondisi yang meniru gejalanya.8

KOTAK CEPAT: 6 “Red Flags” yang Tidak Bisa Ditawar

Penglihatan menurun mendadak (seperti tirai menutup).

Kilas cahaya + floaters mendadak atau bertambah banyak.

Nyeri mata hebat, mata merah, disertai mual/muntah atau melihat halo.

Trauma mata atau kemasukan bahan kimia.

Sakit kepala berat dengan gangguan penglihatan yang baru.

Double vision baru yang tidak biasa.

Rujukan gejala darurat: AAO & Mayo Clinic. 2,4,9,10,11

2) “Minus Nambah” Bukan Cuma Angka: Rabun Jauh, Silinder, dan Beban Kerja Mata

Rabun jauh (miopia) dan astigmatisme (silinder) sering dianggap masalah ringan karena “tinggal pakai kacamata”. Padahal, koreksi yang tidak pas membuat mata bekerja lebih keras dan gejalanya muncul sebagai pusing, cepat lelah, atau sulit fokus.

Tanda kamu butuh cek ulang koreksi:

Sering menyipit saat melihat jauh atau menatap papan/layar.

Sakit kepala berulang setelah membaca/kerja dekat.

Silau meningkat saat mengemudi malam atau melihat lampu.

Ukuran kacamata sering berubah tapi tetap tidak nyaman.

Kesalahan yang paling sering: memaksa mata “beradaptasi” tanpa pemeriksaan. Adaptasi yang kamu rasakan sering bukan perbaikan, tapi kompensasi—dan kompensasi itu melelahkan.

3) Katarak: Kabut yang Datang Pelan, Tapi Mengganggu Total

Katarak adalah kekeruhan lensa mata. Gejalanya khas: penglihatan berkabut, warna terlihat kusam, dan silau meningkat. Katarak tidak bisa “dibersihkan” dengan obat tetes; ketika sudah mengganggu fungsi, terapi efektifnya adalah operasi dengan mengganti lensa keruh menjadi lensa buatan.5,12

Sinyal yang sering diabaikan:

Lampu malam terasa menyilaukan dan menyebar.

Lebih sering ganti ukuran kacamata, tapi tetap merasa “nggak ketemu enaknya”.

Kontras menurun: membaca jadi lebih sulit di tempat redup.

Menunda operasi bukan selalu salah—kalau masih belum mengganggu. Tapi kalau sudah mengacaukan aktivitas (mengemudi, bekerja, atau membaca), menunda hanya memperpanjang keterbatasan yang sebenarnya bisa dipulihkan.5,13

4) Glaukoma: Pencuri Penglihatan yang Sering Tanpa Gejala

Glaukoma adalah kelompok penyakit yang merusak saraf optik. Problem utamanya: kerusakan biasanya permanen, dan pada tipe yang paling umum gejalanya minim pada fase awal. Banyak orang baru sadar saat lapang pandang sudah menyempit.2,3,9

Siapa yang seharusnya tidak menunda skrining:

Ada riwayat keluarga glaukoma.

Usia makin bertambah (risiko naik seiring umur).

Memiliki tekanan bola mata tinggi, atau pernah dinyatakan “suspek glaukoma”.

Punya penyakit sistemik tertentu (misalnya diabetes/hipertensi) atau penggunaan obat tertentu sesuai evaluasi dokter.

Ada juga kondisi darurat: serangan glaukoma sudut tertutup akut. Gejalanya dramatis—mata merah nyeri, penglihatan kabur, melihat halo, sakit kepala, mual atau muntah. Ini bukan ‘tunggu besok’.2,10,11

5) Diabetes dan Retina: Saat Gula Darah Membebankan Biaya ke Penglihatan

Diabetes dapat merusak pembuluh darah retina (retinopati diabetik). Dampaknya bisa bertahap atau mendadak.

Kuncinya bukan hanya pengobatan saat sudah parah, tapi deteksi dini lewat pemeriksaan mata berkala.7,8

Tanda yang patut dicurigai:

Penglihatan buram yang naik-turun.

Muncul titik/bayang (floaters) yang mengganggu.

Sulit melihat detail atau garis terlihat tidak tegas.

Rekomendasi pemeriksaan mata pada penderita diabetes bergantung pada tipe dan kondisi, tetapi prinsipnya jelas: screening rutin membantu mencegah keterlambatan penanganan dan menurunkan risiko kehilangan penglihatan.7,8,14,15

MITOS FAKTA

“Kalau mata masih terasa normal, berarti aman.”

Beberapa penyakit (misalnya glaukoma) bisa tanpa gejala dini, tapi sudah merusak saraf optik.

“Katarak bisa sembuh dengan tetes mata.”

Katarak adalah lensa yang keruh; terapi efektifnya saat mengganggu fungsi adalah operasi.

“Floaters itu pasti normal.”

Floaters bisa normal, tapi peningkatan mendadak apalagi disertai kilas cahaya perlu evaluasi karena bisa terkait robekan/pelepasan retina.

Rujukan: AAO, NCBI, Mayo Clinic. 2,4,5,9,13

Tanya Dokter: “Kapan Cukup Istirahat, Kapan Harus Periksa?”

Q: Kalau mata perih dan merah setelah kerja, apa langsung bahaya?

A: Tidak selalu. Keluhan setelah menatap layar sering terkait mata kering/digital eyestrain. Tapi kalau keluhan menetap, nyeri berat, atau penglihatan benar-benar turun, itu beda cerita—lebih aman diperiksa daripada menebak.

Q: Kenapa glaukoma berbahaya padahal sering tidak terasa?

A: Karena kerusakan saraf optik umumnya permanen. Deteksi dini lewat pemeriksaan mata komprehensif adalah ‘asuransi’ terbaik.

Q: Apa patokan umur untuk mulai skrining?

A: Risiko tiap orang berbeda. Tetapi ada rekomendasi untuk melakukan skrining penyakit mata pada usia sekitar 40 tahun, dan lebih awal bila punya faktor risiko (riwayat keluarga, diabetes, keluhan tertentu).

Rujukan skrining & glaukoma: 2,3

Penutup: Jangan Menunggu Mata “Menyerah”

Polanya jelas: masalah mata yang ringan biasanya membaik dengan kebiasaan yang benar. Masalah mata yang berbahaya justru sering pelan dan tidak terasa. Kalau kamu terbiasa menunda, kamu sedang bertaruh pada sesuatu yang tidak bisa di-reset: penglihatan.

Mulai dari yang sederhana hari ini—atur jeda layar dan cek koreksi bila perlu—lalu jadwalkan pemeriksaan mata bila kamu termasuk kelompok berisiko. Keputusan paling mahal adalah terus menebak.(*)

Editor : Hidayatul Wathoni
#Usia #kabur #Penglihatan #skrining #mata