Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Prof Muhamad Ali, Akademisi Unram yang Membumi dan Dekat dengan Petani

A
Penulis: Ali Rojai❯
Prof Muhamad Ali memegang labu dan kacang panjang menjadi simbol kepemimpinan yang membumi. Akademisi Unram yang membumi dan dekat dengan petani.
Prof Muhamad Ali memegang labu dan kacang panjang menjadi simbol kepemimpinan yang membumi. Akademisi Unram yang membumi dan dekat dengan petani.

LombokPost - Sosok Prof Muhamad Ali kembali menjadi sorotan. Di tengah budaya akademik yang sering terjebak formalitas.


Advertisement

Prof Ali tampil sebagai akademisi Unram yang membumi dan dekat dengan petani.

Foto dirinya memegang labu dan kacang panjang menjadi simbol sederhana tentang bagaimana ilmu harus hadir di tengah masyarakat.

“Ilmu bukan sekadar gelar atau seminar, tetapi harus menyentuh tanah tempat petani bekerja,” ujar Prof Ali.

Advertisement

Sebagai Dekan Fakultas Peternakan Universitas Mataram (Unram) sekaligus figur penting di HKTI, Prof Ali memegang prinsip bahwa akademisi wajib memahami realitas yang mereka ajarkan.

Itulah sebabnya Prof Ali kerap turun ke ladang, menyentuh tanah, dan merasakan langsung kondisi petani. Ia percaya teori hanya berarti jika diterjemahkan menjadi solusi nyata. Di sinilah peran Prof Ali menjadi jembatan penting antara kampus dan desa.

Dalam kiprahnya di HKTI, Prof Ali tidak hanya menyuarakan kepentingan petani, tetapi juga mendorong cara pandang baru.

Advertisement

Ia menegaskan, bahwa ketahanan pangan bukan sekadar produksi, tetapi juga martabat dan kedaulatan. Petani bukan objek program, melainkan subjek pembangunan. Pandangan progresif ini membuat Prof Ali menjadi figur penting dalam dinamika pertanian Indonesia yang terus berubah.

Karakternya lembut, tetapi pemikirannya tajam. Sikapnya santun, namun substansinya kuat.

Di kampus, Prof Ali dikenal sebagai pengajar ramah dan rendah hati. Di tengah petani, ia hadir sebagai sahabat sekaligus mitra. Prof Ali selalu menekankan bahwa pemimpin sejati bukan hanya memerintah, tetapi ikut menanam, merawat, dan berbagi hasil.

Generasi muda kerap bertanya,mungkinkah menjadi hebat tanpa kehilangan hati? Kehadiran Prof Ali menjadi jawabannya. Dengan integritas dan kesederhanaan, ia menunjukkan bahwa kemajuan sejati berangkat dari nilai dasar, bekerja, berbagi, menjaga alam, dan menghormati manusia.

Di tengah dunia yang semakin instan, kiprah Prof Ali mengingatkan bahwa masa depan pertanian Indonesia bergantung pada kolaborasi antara ilmu dan kehidupan nyata. Sebuah pesan yang ia tunjukkan bukan hanya lewat kata-kata, tetapi melalui teladan langsung.(*)

 

 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Desa Jeruk Manis Jadi Panggung Pameran Pangan Asia Tenggara

Desa Jeruk Manis Jadi Panggung Pameran Pangan Asia Tenggara

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dijadwalkan menghadiri seminar dan pameran teknologi pangan se-Asia Tenggara pada 11–12 November

Perkuat Kepemimpinan Sekolah, Unram Gandeng Pemkab Loteng dan UPSI Malaysia

Perkuat Kepemimpinan Sekolah, Unram Gandeng Pemkab Loteng dan UPSI Malaysia

Unram bersama Pemkab Lombok Tengah dan UPSI Malaysia mengembangkan model HERI untuk memperkuat kepemimpinan kolaboratif di sekolah NTB.

Dosen Unram Bawa Teknologi Maggot ke Filipina, Limbah Pesisir Disulap Jadi Pakan Ikan

Dosen Unram Bawa Teknologi Maggot ke Filipina, Limbah Pesisir Disulap Jadi Pakan Ikan

Dosen Unram mengenalkan teknologi maggot sebagai bahan pakan ikan di Filipina sekaligus memperkuat kerja sama dengan MSU at Naawan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer