
Pelaksanaan TKA di SMAN 9 Mataram dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama berlangsung pada 26–29 Oktober 2026, sedangkan gelombang kedua dijadwalkan pada 2–5 November 2026.
Setiap hari, tes dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama berlangsung pukul 08.00–09.45 WITA, sesi kedua pukul 10.30–12.15 WITA, dan sesi ketiga pukul 13.00–14.45 WITA. Peserta mengikuti satu mata pelajaran setiap hari, kecuali pada hari keempat yang mencakup dua mata pelajaran pilihan sekaligus.
Baca Juga: Bahasa Sasak Standar Disiapkan Masuk Sekolah
Untuk mendukung pelaksanaan asesmen, sekolah memanfaatkan tiga ruangan, terdiri atas satu laboratorium komputer dan dua ruang kelas. Karena jumlah perangkat komputer belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan, sekolah juga meminjam laptop milik guru dan siswa. Upaya ini dilakukan agar seluruh peserta dapat mengikuti tes sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Selain memastikan pelaksanaan TKA berjalan lancar, sekolah juga menjaga keberlangsungan pembelajaran bagi siswa kelas X dan XI. Kebijakan tersebut mengacu pada Surat Edaran Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Barat Nomor 100.3.4/4211.Set/X/Dikpora/2026 tentang Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Pengaturan Jam Pembelajaran pada SMA, SMK, dan SLB di Provinsi NTB.
Secara khusus, poin 2 huruf c atau Alternatif 3 dalam surat edaran tersebut mengatur agar sekolah tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka secara luar jaringan (luring/kombinasi) bagi siswa kelas X dan XI selama pelaksanaan TKA. Sekolah juga wajib mengondisikan dan memastikan pelaksanaan TKA berlangsung aman, tenang, dan tidak terganggu.
Baca Juga: Cegah Perundungan di Sekolah, Polsek Kediri Edukasi Siswa MTsN 2 Lombok Barat
SMAN 9 Mataram memilih alternatif tersebut dengan mempertimbangkan keberlangsungan pembelajaran sekaligus kelancaran asesmen bagi siswa kelas XII. Pengaturan ruang dan kegiatan sekolah menjadi bagian penting untuk memastikan kedua kegiatan pendidikan dapat berjalan dengan baik.
Kepala SMA Negeri 9 Mataram, Nengah Istiqomah, M.Pd., menilai pelaksanaan TKA menjadi kesempatan untuk melihat kemampuan akademik siswa, terutama dalam aspek literasi dan numerasi. Hasilnya juga dapat menjadi bahan evaluasi bagi sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Pelaksanaan TKA menjadi kesempatan untuk melihat kemampuan akademik siswa, terutama dalam aspek literasi dan numerasi. Kami berupaya agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan baik. Namun, pelaksanaan asesmen berbasis digital juga membutuhkan dukungan sarana dan prasarana yang memadai, khususnya perangkat komputer atau laptop. Kami berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap pemenuhan fasilitas sekolah agar kegiatan asesmen dan pembelajaran berbasis digital dapat berjalan lebih optimal,” ujar Nengah Istiqomah.
Sementara itu, guru SMAN 9 Mataram, Rizkamaya Diah Mustika, menilai TKA memberikan manfaat bagi siswa maupun guru. Selain membantu memetakan kemampuan akademik, asesmen ini dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Menurut saya, pelaksanaan TKA cukup baik karena membantu memetakan kemampuan akademik siswa dan menjadi bahan evaluasi bagi guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. TKA juga mendorong penguatan kemampuan literasi dan numerasi serta membiasakan siswa mengerjakan soal yang menuntut penalaran dan pemahaman konsep,” ujar Rizkamaya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




