LombokPost – Tensi politik di internal DPD Partai Demokrat NTB kian menghangat menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) yang semakin dekat.
Sejumlah figur potensial yang digadang-gadang maju memimpin Demokrat NTB terus bermunculan.
Setidaknya sudah muncul empat nama potensial. Di antaranya Wali Kota Bima A Rahman alias Aji Man, dua anggota DPRD NTB Raden Rahadian Soedjono dan Syamsul Fikri, serta Ketua DPC Lombok Timur (Lotim) Amrul Jihadi.
Kemunculnya empat figur tersebut dibenarkan Syamsul Fikri. Sejumlah figur ini bahkan disebut mulai mendekati DPC-DPC pemilik suara.
"Semua kader punya peluang. Tapi dengan catatan harus mendapatkan dukungan minimal 20 persen dari pemilik suara. Ini syarat untuk maju mencalonkan diri," kata Syamsul Fikri saat ditemui usai rapat paripurna DPRD NTB, Senin (30/3).
Fikri mengakui sedang mengatur strategi untuk maju memperebutkan kursi ketua DPD Demokrat NTB. Sebagai ketua DPC Demokrat Kabupaten Sumbawa empat periode, ia yakin mampu memimpin partai berlambang Bintang Mercy itu.
"Saya sudah empat periode jadi ketua DPC (Kabupaten Sumbawa, Red), sangat patut dan layak menjadi bakal calon ketua," ungkapnya.
Ia juga menyebut koleganya sesama fraksi di DPRD NTB Raden Rahadian Soedjono juga layak maju. Sebelum menjadi anggota dewan provinsi, Rahadian sebelumnya juga pernah sebagai pimpinan di DPRD Lotim.
"Rahadian mantan pimpinan DPRD Lotim, saya juga pernah jadi pimpinan DPRD Sumbawa. Jadi sangat patut dan layak," ujar Fikri.
Meski demikian ia menyadari bahwa dukungan dari DPC-DPC saja tidak cukup. Saat ini sesuai dengan AD/ART partai, Ketua Umum Partai Demokrat memiliki hak veto. Sehingga siapa pun calon atau figur yang didukung Ketua Umum dipastikan akan langsung terpilih.
"Siapun yang mendapatkan rekom dari Ketum saya kira itulah yang memimpin. Kalau Ketum mengajukan calon sendiri, selesai. Karena itu hak prerogatif beliau," jelasnya.
Ia optimistis Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) akan berlaku adil dan bijak. Yaitu dengan melihat kapasitas dan elektabilitas yang bersangkutan. Termasuk dari dukungan logistik.
"Jadi Ketum betul-betul akan menilai. Siapa yang punya kapasitas, elektabilitas dan tentu saja isi tas (logistik, Red). Sehingga kita rasional dalam memimpin partai," pungkas anggota Komisi IV DPRD NTB itu.
Sementara itu, Raden Rahadian Soedjono mengakui adanya aspirasi dan dukungan untuk maju dalam kontestasi Musda Partai Demokrat NTB. "Tentu saya sangat berterima kasih dengan dorongan dan dukungan dari teman-teman kader semua," kata Rahadian.
Meski demikian, ia mengaku belum melakukan persiapan secara teknis. Seperti turun langsung menyapa para DPC-DPC pemilik suara. Sebab dirinya masih menunggu arahan dari DPP Demokrat. Termasuk bagaimana petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) pelaknaaan Musda nanti.
"Kalau saya pribadi saya serahkan ke mekanisme partai. Juga bagaimana aspirasi dari para pemilik suara," ujarnya.
Ditanya terkait kesiapannya maju dalam Musda Demokrat NTB, Rahadian hanya menjawab diplomatis.
"Intinya tunggu arahan pusat. Saya sebagai kader siap bagaimana pun kalau diperintah oleh partai," pungkas Wakil Ketua Komisi III DPRD NTB itu.
Editor : Kimda Farida