LombokPost-Masalah kualitas pangan kembali menjadi sorotan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di SDN 1 Labulia, Jonggat, Lombok Tengah salah satu menu yang dibagikan kepada siswa ditemukan mengandung belatung.
Peristiwa itu terjadi pada Senin (9/2) lalu. Dalam rekaman yang viral, tampak sejumlah belatung berada di dalam ompreng makanan yang seharusnya dikonsumsi siswa. Pihak sekolah tidak menampik kejadian itu.
Kepala SDN 1 Labulia Atim membenarkan temuan itu terjadi saat proses pembagian menu MBG kepada siswa. Menurut Atim, setelah dilakukan pengecekan, belatung diduga berasal dari buah naga yang menjadi bagian menu MBG hari itu.
Pihak sekolah segera berkoordinasi dan melaporkan kejadian itu kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Labulia di Dusun Tandek, Desa Labulia, selaku penyalur program MBG.
“Kami langsung melaporkan agar segera ditindaklanjuti. Harapan kami ke depan, setiap menu yang dikirim benar-benar melalui pemeriksaan ketat,” ujar Atim pada wartawan, Selasa (10/2).
Temuan ini menjadi catatan penting, mengingat program MBG menyasar kelompok rentan, yakni anak-anak usia sekolah dasar. Bagi sekolah, aspek higienitas menu bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menyangkut kepercayaan orang tua terhadap program nasional itu.
Di sisi lain, pihak SPPG Labulia mengakui adanya kelalaian. Kepala SPPG Tandek Labulia Ahmad Tambih membenarkan temuan belatung dalam menu MBG yang disalurkan ke sekolah. Ia memohon maaf kepada seluruh penerima manfaat, khususnya pihak sekolah dan siswa.
“Kami khilaf. Ini akan menjadi bahan evaluasi serius bagi kami agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
Ahmad menegaskan, ke depan pihaknya akan memperketat proses seleksi bahan baku, termasuk buah-buahan, serta meningkatkan pengawasan sebelum makanan didistribusikan. Evaluasi internal disebut segera dilakukan untuk memastikan standar kebersihan dan keamanan pangan terpenuhi.
Data sementara menunjukkan, temuan menu MBG yang mengandung belatung tidak hanya terjadi di SDN 1 Labulia, tetapi juga dilaporkan di SDN Batu Tinggang. Fakta ini memperkuat urgensi pengawasan berlapis terhadap pelaksanaan MBG di tingkat pelaksana.
Pemerintah daerah didorong untuk tidak hanya fokus pada capaian distribusi, tetapi juga memastikan kualitas menu benar-benar layak dan aman dikonsumsi siswa.
Editor : Jelo Sangaji