Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Forum Wisata Lingkar Rinjani Tolak Pembatasan Pendakian

Supardi
Penulis: Supardi❯
Pendakian Gunung Rinjani yang semakin diminati. (DOK. BALAI TNGR)
Pendakian Gunung Rinjani yang semakin diminati. (DOK. BALAI TNGR)

Advertisement

 

LombokPost-Forum Wisata Lingkar Rinjani menolak kebijakan pembatasan pendakian ke Gunung Rinjani untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR). Kebijakan ini dinilai sangat merugikan para pelaku wisata lingkar Rinjani.

“Pada prinsipnya kita mendukung pencegahan kebakaran ini. Karena memang itu dapat merugikan kita semua. Tapi kami harap lihat dulu kondisi di lapangan seperti apa,” terang Ketua Forum Wisata Lingkar Rinjani Royal Sembalun saat dikonfirmasi Lombok Post, Rabu (2/9).

Advertisement

Royal menyampaikan, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Kementerian Kehutanan selaku pihak yang mengeluarkan edaran itu dinilai tidak memahami kondisi yang terjadi di kawasan yang dikelola sendiri, yakni kawasan TNGR.

Dirinya tidak menafikan setiap tahun Gunung Rinjani sering terjadi kebakaran. Tetapi, kebakaran itu dikarenakan faktor alam karena vegetasi Rinjani didominasi sabana, terutama di pintu masuk Sembalun.

Advertisement

“Kalau kita melihat sejarah dan fakta di lapangan, bahwasanya titik kebakaran itu bukan disebabkan pendaki. Tapi murni karena kondisi alam. Sehingga tidak menyambung antara edaran penutupan pendakian dengan kebakaran,” jelasnya.

Menurutnya, seharusnya yang dilakukan KSDAE, BTNGR, pelaku wisata, maupun masyarakat sekitar adalah memperkuat mitigasi untuk mengantisipasi potensi terjadinya kebakaran. Bukan dengan membatasi aktivitas pendakian.

Pembatasan booking online menurutnya secara tidak langsung melakukan penutupan pendakian secara total. Sehingga, kebijakan ini akan berdampak terhadap pelaku wisata, porter, guide, dan masyarakat sekitar.

“Kebijakan Kementerian Kehutanan melalui Dirjen KSDAE, menurut kami sangat merugikan kami selaku pelaku usaha wisata di Rinjani,” jelasnya.

Dia menegaskan, kebakaran yang terjadi di kawasan TNGR selama ini bukan disebabkan aktivitas pendakian. Bahkan, titik-titik api jauh dari jalur pendakian. Sebagai contoh, kebakaran yang terjadi baru-baru ini di kawasan TNGR, titiknya berasal dari lahan milik masyarakat yang jauh dari jalur pendakian.

Advertisement
Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : lombok timur
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Ancaman Karhutla Mengintai, Balai TN Tambora Tutup Jalur Pendakian

Ancaman Karhutla Mengintai, Balai TN Tambora Tutup Jalur Pendakian

Pendakian Gunung Tambora ditutup sementara mulai 1 September 2026 akibat tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Antisipasi Karhutla, Akses Pendakian Rinjani Dibuka Terbatas dan Layanan Booking Ditutup

Antisipasi Karhutla, Akses Pendakian Rinjani Dibuka Terbatas dan Layanan Booking Ditutup

Balai TNGR membuka pendakian Gunung Rinjani secara terbatas mulai 1 September 2026 guna mencegah kebakaran hutan.

Jalur Sembalun Didominasi Pendaki Mancanegara

Jalur Sembalun Didominasi Pendaki Mancanegara

Pendakian Gunung Rinjani melalui jalur Sembalun sepanjang 2026 didominasi wisatawan mancanegara dengn jumlah 23.275 orang dan WNI 17.736

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer