
LombokPost-Proses budi daya lobster di Lombok Timur (Lotim) saat ini terkendala ketersediaan pakan yang sangat terbatas. Pakan lobster tidak bisa menggunakan pelet atau pakan pabrikan seperti yang diberikan kepada ikan pada umumnya.
“Karena tingkah laku makan lobster itu beda. Dia tidak langsung mengunyah, tapi ada proses mencabik pakan,” terang Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lotim M Tasywiruddin di ruang kerjanya, Senin (14/9).
Para pembudi daya lobster selama ini hanya mengandalkan pakan rucah. Pakan itu terbuat dari ikan segar yang dicacah kecil-kecil sehingga harganya dinilai cukup mahal.
Ikan-ikan itu juga dikonsumsi masyarakat setiap hari. Untuk mendapatkannya, para pembudi daya harus bersaing dengan masyarakat yang menjual ikan. “Sehingga kami saat ini sedang mencari informasi teknologi untuk pembuatan pakan alternatif,” imbuhnya.
Kementerian Kelautan dan Perikanan juga tengah berusaha mencari pakan alternatif selain ikan rucah. Salah satunya adalah menggunakan kerang cokelat. Kerang itu juga kaya protein dan pertumbuhannya sangat cepat sehingga dinilai cocok dijadikan pakan alternatif.
Namun, penggunaan kerang itu sebagai pakan masih dalam proses penelitian. Pertumbuhan kerang dinilai sangat cepat sehingga dikhawatirkan jika ada yang lepas justru akan menjadi hama.
“Ini yang masih dipikirkan dan dikaji, bagaimana mengembangkan pakan ini. Kita kembangkan tapi kemudian tidak sampai merusak lingkungan,” katanya.
Pihaknya terus berupaya mencari informasi terkait pembuatan pakan alternatif yang murah dan tidak berdampak terhadap lingkungan. Dengan demikian, persoalan pakan diharapkan bisa teratasi.
“Kami tadi diskusi dengan kepala bidang-bidang untuk cari jenis kerang selain kerang cokelat yang bisa dibuat pakan yang tidak merusak lingkungan,” ujarnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





