Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kepala Desa Eat Mayang Tagih Janji Bronjong

H
Penulis: Hamdani Wathoni❯
Munawir Haris
Munawir Haris

LombokPost – Kondisi geografis Desa Eat Mayang yang berada di dataran rendah atau menyerupai cekungan menjadi momok bagi warga setempat saat musim penghujan tiba. Akibat dikelilingi perbukitan seperti Gunung Mareje Timur, Mareje Barat, hingga Sekotong Timur, desa ini kerap terendam banjir luapan yang menghambat aktivitas ekonomi dan transportasi.


Advertisement

"Kondisi Eat Mayang ini seperti cekungan. Kalau sudah hujan, air dari gunung-gunung di sekeliling kami semuanya turun ke bawah. Akibatnya, jalan kabupaten terendam cukup dalam," terang Kepala Desa Eat Mayang Munawir Haris kepada Lombok Post.

Dia mengungkapkan setiap kali hujan deras mengguyur, akses jalan kabupaten yang menghubungkan warga terendam air hingga ketinggian setengah ban mobil. Kondisi ini membuat jalur tersebut sulit dilalui dan membahayakan pengguna jalan.

​​Menurutnya, ada dua persoalan krusial yang harus segera ditangani oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Barat. Pertama, keberadaan jembatan sempit di Dusun Jelateng Barat yang menghambat laju air. Pihak desa mengaku sudah berulang kali bersurat dan berkoordinasi dengan Dinas PUPR maupun Bappeda agar jembatan tersebut dibongkar dan diperlebar.

Advertisement

​"Itu jalan kabupaten, jadi kewenangannya di pemkab. Kami berharap jembatan itu segera dibongkar supaya pembuangan air dari Dusun Jelateng Barat dan Jelateng Baru bisa langsung lancar mengalir ke sungai," tambahnya.

​Persoalan kedua yang tak kalah pelik adalah kondisi Sungai Eat Mayang yang mengalir menuju laut. Hingga saat ini, normalisasi sungai belum juga menyentuh wilayah tersebut. Akibatnya, lima titik tanggul sungai jebol karena tak mampu menahan debit air.

​Munawir menceritakan, dampak kerusakan infrastruktur ini sangat dirasakan petani. Pada tahun 2025 lalu, puluhan hektare lahan pertanian produktif gagal panen akibat tertimbun material pasir yang dibawa luapan sungai.

Advertisement

​"Ibu Wakil Bupati sebelumnya Bu Hj. Sumiatun bersama Kalak BPBD sudah turun langsung mensurvei lokasi. Saat itu kami dijanjikan pembangunan bronjong untuk menahan tanggul yang jebol," ungkapnya.

Tapi sampai hari ini, janji itu belum terealisasi. Meski bantuan logistik berupa beras dan selimut sempat diterima warga saat banjir besar melanda, Munawir menegaskan bahwa yang dibutuhkan warga saat ini adalah solusi permanen. 

Pembangunan bronjong di lima titik kritis dua di Dusun Jelateng Barat dan tiga di Dusun Penyeleng menjadi harga mati untuk mencegah bencana yang lebih besar.

​"Kami sangat berharap Pemerintah Kabupaten segera bertindak. Jangan sampai setiap tahun warga kami terus dihantui banjir dan gagal panen karena infrastruktur yang tidak memadai," pungkasnya. 

Advertisement
Editor : Jelo J
Sumber : Lombok Post
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Lestarikan Tradisi dan Kerukunan, Event Budaya Perang Topat 2026 Siap Digelar di Lombok Barat

Lestarikan Tradisi dan Kerukunan, Event Budaya Perang Topat 2026 Siap Digelar di Lombok Barat

Disparekrafpora Kabupaten Lombok Barat (Lobar) kembali menggelar perhelatan budaya tahunan Perang Topat 2026.

Fauzan Husniadi Bakal Dilantik Jadi Sekda Lobar, Komisi I DPRD Lobar Beri Sejumlah Catatan

Fauzan Husniadi Bakal Dilantik Jadi Sekda Lobar, Komisi I DPRD Lobar Beri Sejumlah Catatan

Pemerintah Kabupaten Lombok Barat bersiap menyambut babak baru dalam tata kelola birokrasi pemerintahan daerah dengan pelantikan Sekda baru.

Sinergi SPPG Karang Bongkot dan PIC Sekolah, Kunci Sukses Program MBG di Lombok Barat

Sinergi SPPG Karang Bongkot dan PIC Sekolah, Kunci Sukses Program MBG di Lombok Barat

Di bawah naungan Yayasan Batu Emas, SPPG Karang Bongkot bangun model kerja kolaboratif bersama para PIC di setiap sekolah penerima manfaat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer