Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mentadaburi Peristiwa Isra dan Mikraj, Salat Sarana Komunikasi Langsung antara Hamba dan Tuhannya

Lombok Post Online • Jumat, 23 Januari 2026 | 10:20 WIB

 

 

TGH Muharrar Iqbal
TGH Muharrar Iqbal

LombokPost - Rasulullah SAW bersabda: “Pada malam Mikraj, aku melihat Musa di langit ketiga” (HR Bukhari dan Muslim)

Peristiwa Isra Mikraj adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang menjadi tonggak utama dalam perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini terjadi pada malam hari. Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidilharam di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina (Isra) dan dilanjutkan dengan perjalanan ke Sidratul Muntaha (Mikraj) untuk ditunjukkan akan kebesaran Allah SWT.

Perjalanan ini terjadi dalam satu malam bersama malaikat Jibril. Isra Mikraj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-12 kenabian Nabi Muhammad SAW.

Peristiwa Isra dan Mikraj merupakan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah kenabian Rasulullah SAW. Ia bukan sekadar kisah perjalanan luar biasa dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa, lalu menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha, tetapi mengandung pesan-pesan keimanan yang dalam untuk direnungi (ditadaburi) oleh umat Islam, khususnya pada momentum mulia hari Jumat.

Peristiwa Isra dan Mikraj terjadi pada masa yang sangat berat bagi Rasulullah SAW. Setelah wafatnya Khadijah RA dan Abu Thalib, serta penolakan dan tekanan dari kaum Quraisy, Allah SWT menghadirkan peristiwa ini sebagai penghibur, penguat iman, dan peneguh risalah.

Dari sini kita belajar bahwa pertolongan Allah SWT sering kali datang setelah kesabaran mencapai puncaknya. Dalam setiap kesulitan, selalu ada jalan keluar bagi orang-orang yang istiqamah.

Pembaca Hikmah Jumat yang budiman.

Setiap peristiwa pasti memiliki hikmah. Dan Salah satu hikmah utama Isra dan Mikraj adalah penegasan tentang salat. Di dalam peristiwa inilah salat lima waktu diwajibkan secara langsung oleh Allah SWT tanpa perantara. Ini menunjukkan kedudukan salat yang sangat istimewa sebagai tiang agama dan sarana komunikasi langsung antara hamba dan Tuhannya. Salat bukan sekadar kewajiban rutin, tetapi kebutuhan rohani yang menjaga keimanan dan akhlak seorang muslim.

Isra dan Mikraj juga mengajarkan tentang keterhubungan antara iman dan akal. Secara logika manusia, peristiwa ini sulit dipahami. Namun, iman mengajarkan bahwa kekuasaan Allah tidak dibatasi oleh hukum alam.

Bagi orang beriman, Isra dan Mikraj adalah ujian keyakinan: apakah ia tunduk pada keterbatasan akalnya, atau berserah kepada kemahakuasaan Allah. Dari sini, kita diajak untuk menempatkan akal sebagai sarana memahami, bukan sebagai penguasa kebenaran mutlak.

Selain itu, peristiwa Isra dan Mikraj menegaskan persatuan risalah para nabi. Rasulullah SAW menjadi imam salat bagi para nabi di Masjidil Aqsa, menunjukkan bahwa Islam adalah kelanjutan dari risalah tauhid sebelumnya. Pesan ini relevan dalam kehidupan umat Islam untuk menjaga persatuan, ukhuwah, dan sikap saling menghormati dalam perbedaan.

Jika ditadaburi lebih jauh, Isra dan Mikraj juga mengajarkan optimisme dan harapan. Perjalanan dari bumi menuju langit melambangkan bahwa derajat manusia dapat diangkat tinggi oleh Allah SWT melalui iman, kesabaran, dan ketaatan.

Dalam kehidupan yang penuh tantangan, peristiwa ini mengingatkan kita agar tidak terjebak pada keputusasaan, karena Allah Maha Mampu mengubah keadaan dalam sekejap. Momentum Jumat adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali makna Isra dan Mikraj dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah salat sudah menjadi pusat kehidupan kita? Apakah kesabaran masih kita jaga di tengah ujian? Apakah iman kita semakin kokoh atau justru melemah oleh hiruk-pikuk dunia?

Mentadaburi peristiwa Isra dan Mikraj bukan sekadar mengenang kejadian bersejarah, tetapi menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan nyata. Semoga peristiwa agung ini meneguhkan iman kita, memperbaiki kualitas salat kita, dan menguatkan langkah kita dalam menapaki jalan ketaatan kepada Allah SWT. Wallohu’lam bisshawab. (*)

Editor : Kimda Farida
#peristiwa #nabi #islam #Iman #akal