LombokPost - Tak terasa, langkah kita di bulan suci Ramadan sudah sampai di ambang pintu gerbang terakhir. Dalam beberapa hari ke depan, ummat Islam akan memasuki fase 10 hari terakhir, sebuah rentang waktu yang paling dinantikan.
Di sinilah terselip satu malam yang keutamaannya disebut lebih baik daripada seribu bulan atau setara dengan 83 tahun: Lailatul Qadar.
Semangat fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) mendadak meningkat. Wajar saja, sebab jatah umur manusia belum tentu sampai 83 tahun, namun Allah Swt memberikan "bonus" kemuliaan yang melampaui usia manusia dalam satu malam saja.
Bukan Sekadar Perayaan, Tapi Kedalaman Jiwa
Lailatul Qadar bukanlah malam pengkalenderan yang dirayakan dengan seremonial belaka layaknya Nuzulul Qur’an atau Isra’ Mi’raj.
Malam ini juga bukan malam penentuan nasib yang biasa kita munajatkan pada Nisfu Sya’ban.
Lailatul Qadar adalah tentang kedekatan hamba dengan Sang Khalik.
Sebagaimana firman Allah dalam Surat al-Qadar, malam itu adalah saat para malaikat, termasuk Jibril, turun ke bumi membawa kedamaian dan keselamatan hingga terbit fajar.
Inilah momentum di mana "lailatin mubarakatin" (malam yang penuh berkah) menyapa jiwa-jiwa yang rindu akan ampunan.
Misteri di Angka 27
Secara harfiah, Lailatul Qadar terselubung penuh misteri. Namun, para ulama sering memberikan prediksi lewat tafsir dan isyarat unik (apologi). Salah satunya adalah angka 27.
Menariknya, dalam Surat al-Qadar yang terdiri dari 30 kata, kata ganti "HIYA" (Dialah Lailatul Qadar) terletak tepat pada urutan kata ke-27. Meski demikian, Rasulullah Saw tidak menganjurkan kita hanya terpaku pada satu malam saja. Beliau justru memberi teladan untuk mengencangkan ikat pinggang dan ber-i’tikaf selama 10 malam terakhir penuh hingga akhir hayat beliau di Madinah.
Mengetuk Pintu Rahmat di Masjid maupun Rumah
I’tikaf adalah usaha muraqabah atau mendekatkan diri dengan penuh ikhlas. Seolah-olah kita sedang berdiri tegak di depan pintu rahmat Allah, menunggu kuncinya dibuka melalui pengampunan-Nya.
Syekh Mahmud Syaltut dalam Min Taujihat al-Islam menyebut ada tiga fungsi utama memakmurkan akhir Ramadan:
Wujud Syukur: Atas turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk dan penerang.
Pengokoh Jiwa: Menambatkan batin pada hal-hal yang menguatkan rohani.
Peningkatan Maqam: Menaikkan derajat jiwa ke maqam tertinggi.
Jika karena suatu halangan kita tidak bisa ke masjid, jangan berkecil hati. Rumah kita pun bisa menjadi "taman surga". Terangi rumah dengan bacaan Al-Qur'an, hiasi dengan zikir dan salawat, serta ajaklah keluarga bermunajat. Semoga di penghujung Ramadan ini, Allah mengangkat derajat kita dan mempertemukan kita dengan kemuliaan malam seribu bulan. Aamiin ya Rabbal Alamin.
Editor : Kimda Farida