Sejak 2019 program IGA Honda (Income Generate Activity) Honda terus memberikan pembinaan terhadap UMKM sehingga dapat berkembang menjadi lebih besar.
GALIH MEGA PUTRA, Mataram
Touring dan CSR Honda Amazing Pers berlanjut ke titik kedua yakni kerupuk kelor di Desa Batu Putih , Sekotong.
Perjalanan dimulai sekitar pukul 09.30,dari titik sebelumnya di IGA Honda UMKM Mong Glemong, Dasan Cermen, Mataram.
Peserta diuji skill berkendaranya sekaligus merasakan sensasi di atas motor matic premium Honda. Meski menempuh jarak pulang pergi, Mataram-Sekotong, sekitar 130 kilometer, badan tidak merasa pegal. Motor dipacu hingga kecepatan 100km/jam pun masih stabil dan nyaman.
Setelah 90 menit, rombongan tiba di lokasi kedua IGA Honda dan langsung disambut Ketua Kelompok Usaha Mekar Sari Bangkit, Rukiyah.
Kelompok usaha ini memperoduksi beragam olahan, seperti abon ikan dan kerupuk berbahan dasar rumput laut. Salah satunya yang sangat unik adalah kerupuk moringgit daun kelor.
UMKM ini terbentuk sejak tahun 2014 atas dasar bantuan dan binaan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lombok Barat. Awalnya hanya memproduksi abon ikan, terus berkembang hingga menghasilkan berbagai macam varian kerupuk. ”Kami dulu bikin kerupuk rasa jagung, ikan, labu, balado pedas, dan yang paling menonjol saat ini kerupuk kelor,” terang Rukiyah.
Bahan dasar kelor ia peroleh dari masyarakat sekitar. Kelor digunakan sebagai pewarna kerupuk dan menciptakan tekstur yang crunchy. Rasanya pun terbilang lezat, gurih, sedikit manis pedas dipadu dengan rasa kelor yang nyaman di mulut.
Usut punya usut, awalnya ketika terjun di bisnis kerupuk Rukiyah mengaku menggunakan bahan boraks sebagai bahan pengembang krupuknya. Namun setelah ada himbauan dan larangan dari pemerintah, boraks diganti dengan rumput laut sebagai bahan pengembang. Ilmu ini ia dapat setelah mendapat pelatihan dari DKP. ”Sekarang kerupuk yang kami produksi menggunakan bahan-bahan alami dan tanpa pengawet, jadi lebih bergizi,” terangnya.
Meski tanpa pengawet, daya tahan produknya cukup lama. Kerupuk mentah bisa bertahan satu tahun dan kerupuk matang tiga bulan.
Awalnya ia hanya bermodal Rp 500 ribu dan memproduksi satu kilogram per bulan. Namun kini bisa mencapai 50 kkilogram per bulan dengan omzet Rp 3 jutaan. Varian produk mentahnya dikemas 150 gram dan dijual dengan harga Rp 10.000.
Pemasarannya pun masih terbilang sederhana, ia hanya memasarkan di warung-warung sekitar dengan label kemasaan terkesan seadanya. Namun sejak menjadi bagian dari IGA Honda dua bulan lalu, label kemasan berubah menjadi lebih menarik sehingga Rukiyah lebih percaya diri untuk memasarkan produknya. ”Astra Honda sudah men-support packaging dan branding UMKM kami,” ungkap Rukiyah.
Astra Motor NTB juga mensuport dalam bentuk modal dan pengadaan etalase. Ini tentunya menjadi awal kebangkitan UMKM agar lebih mandiri. Bahkan sekarang, produk kerupuk moringgit juga berkolaborasi dengan BPD Bali dan kelompok UMKM Pondok Kelor di Kekeri. Dari kolaborasi ini krupuk Moringgit dibantu untuk pemasaran di Mataram dan Lombok Barat. ”Semoga melalui program IGA Honda ini mampu menjadi usaha unggulan di daerah tersebut dan menjadi contoh bagi UMKM sekitarnya,” terang Ivan Pratama, admin finance manager Astra Motor NTB. (*/r9)
Editor : Galih Mps